Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

SERBA-SERBI

Ekonomika Pancasila: Mengakhiri Mimpi Makmur

Kamis 22 Jan 2026, 15:39 WIB

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

Bosen penjajahan, kita proklamasikan kemerdekaan. Berlakulah orde lama, yang kita ganti orde baru. Bosen dengan orde baru, kita ganti orde reformasi. Tetapi, pertanyaan masih sama dari dulu: mengapa orde-orde itu gagal menghadirkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan warga negara secara maksimal?

Mengapa setelah 80 tahun Negara Pancasila hadir, justru punya ciri menarik yaitu melawan dan mengkhianati cita-citanya sendiri: 1) Rakyat cari makan sendiri; 2) Rakyat dipungut pajak tinggi; 3) Kekayaan negara diserahkan ke korporasi; 4) Biaya hidup, pendidikan dan kesehatan sangat tinggi;

Lalu, kita juga melihat bahwa, 4) Kritik pada penguasa dianggap musuh dan dipenjara; 5) Keadilan sosial tidak ada; 6) Ketimpangan makin tajam; 7) Kesenjangan makin lebar; 8) Pengangguran makin masif; 9) Kemiskinan makin menjalar dan menular.

Waduh, wajah prestasi yang positif sulit kita temukan. Karenanya, kita wajib menjawab dengan serius jika tak mau jadi warga negara terkutuk dan dikutuk ahli waris. Ini pesan pentingnya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Jejak Jahat Ekonomi Kolonial

Tentu ada jawaban pokok yang menjadi penyebabnya. Tapi, izinkan kita menjawab dengan dua hal dulu. Pertama, gerakan rakyat sadar perubahan itu masih menyisakan tradisi dan bentuk mitos state. Dalam negara mitos, aparatus negara hidup dengan cara-cara skriptural, eskatologis, melankolis, dan romantis.

Kedua, aparat kita adalah pemain baru bermental lama dan pemain lama berbaju baru. Artinya di sini, agensi, lembaga dan agendanya tidak ada yang luarbiasa. Hanya mengulang dan meniru tanpa kejeniusan baru.

Dengan dua argumen itu, kita mestinya punya “panca program subtansi” dengan melakukan: 1)Nasionalisasi aset strategis; 2)SDA untuk kemakmuran rakyat; 3)Hapus utang lama dan tolak utang baru; 4)Proteksi produksi dalam negeri; 5)Reindustrislisasi terstruktur, sistematis dan masif.

Kelimanya harus tertera dalam angka-angka yang nyata dan hadir dalam APBN. Semua harus menjadi eksposure ekonomi yang sangat penting bagi negara dan warganya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Di Atas Bendera Ekonomi Korupsi

Karena dari sana kita dapat paham bagaimana “mimpi makmur” dapat diraih. Dan, semua itu hanya dapat terwujud dengan satu syarat, yakni kekuatan alternatif (kaum muda visioner-konsisten) harus bersatu solid memperkuat diri dan memenangkan hati, harapan, dan keyakinan rakyat.

Kekuatan alternatif yang senyatanya sedang dan terus dinanti-nantikan oleh rakyat nusantara. Gerak kinerja baru (agensi, agenda, lembaga) ini merupakan road map menuju kebaikan bagi semua orang yang punya maksud baik di negeri ini.

Tanpa itu, warga kebanyakan hanya merasakan paradoks ekonomi yang semakin nyata: angka-angka makro terlihat tumbuh, namun kehidupan sehari-hari justru kian berat. Negara rajin memamerkan pertumbuhan, investasi, dan penerimaan pajak, tetapi rakyat kecil kebanyakan berjuang keras mempertahankan daya hidupnya.

Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya pendidikan dan kesehatan semakin mencekik, sementara pendapatan tidak bergerak sebanding dengan kebutuhan dasar. Repotnya, dalam situasi seperti ini, pajak justru tampil sebagai prioritas negara, bukan perlindungan terhadap rakyat yang semakin terdesak.

Singkatnya, perubahan yang baik adalah perubahan yang menciptakan pro dan kontra para pengamat dan warga nusantara. Pihak kontra adalah para plutokrat dan gerontokrat di negeri kita, sedangkan pro adalah para patriot dan pasukan republik.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomisasi Rempah

Pada akhirnya, ekonomi kemakmuran tidak boleh hanya mimpi, ia harus menginspirasi dan memotivasi tetapi juga mengintruksi kita untuk berbuat. Sekarang dan seterusnya.

Mari kita saling memperkuat persatuan agensi, agenda, kelembagaan tersebut, dengan keyakinan, rendah hati, pengorbanan, solidaritas, demi kebaikan dan kesejahteraan, kemakmuran dan kesentosaan rakyat nusantara.

Tags:
Yudhie HaryonoNusantara Centre

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor