POSKOTA.CO.ID - Semakin dekatnya kedatangan bulan suci, menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunah Syaban banyak dipertanyakan umat Islam.
Bulan Syaban dikenal sebagai salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah. Rasulullah SAW diriwayatkan memperbanyak ibadah puasa pada bulan ini sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
Di sisi lain, tidak sedikit umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan dari tahun sebelumnya, baik karena sakit, bepergian, maupun alasan syar’i lainnya.
Lantas, apakah puasa qadha Ramadhan dapat digabung dengan puasa sunnah Syaban dalam satu waktu?
Pemahaman terhadap hukum penggabungan niat puasa Syaban dan qadha Ramadhan menjadi penting agar umat Islam tidak hanya berorientasi pada kuantitas ibadah, tetapi juga pada keabsahan dan kualitas amalan.
Kesalahan dalam niat dapat berimplikasi serius, karena niat merupakan salah satu rukun utama dalam ibadah puasa, khususnya puasa wajib seperti qadha Ramadhan.
Bolehkah Menggabung Niat Puasa Syaban dan Qadha Ramadhan?
Dikutip dari laman NU Online, Kamis, 22 Januari 2026, Iman Suyuthi melalui kitab al-Asbah wan Nadhair menjelaskan, dalam mazhab Syafii terdapat empat kategori hukum terkait penggabungan niat ibadah fardhu (wajib) dan sunnah.
Klasifikasi ini menjadi rujukan penting dalam memahami keabsahan niat puasa qadha Ramadhan yang digabung dengan puasa sunnah Syaban.
1. Sah Keduanya, Fardhu dan Sunnah
Penggabungan niat dinilai sah untuk kedua ibadah, baik yang bersifat wajib maupun sunnah.
Contohnya, seseorang berniat mandi junub yang wajib sekaligus mandi sunnah Jumat.
Dalam kondisi ini, kedua niat tersebut sama-sama sah dan ibadahnya dianggap sempurna.
2. Sah Ibadah Fardhu, Sunnah Tidak Sah
Dalam kategori ini, penggabungan niat hanya dianggap sah untuk ibadah wajib, sementara ibadah sunnahnya tidak bernilai.
Contohnya, seseorang yang menjalankan ibadah haji untuk pertama kali dengan niat haji wajib sekaligus haji sunnah.
Yang dianggap sah hanyalah haji wajib, karena kewajiban memiliki kedudukan lebih tinggi.
3. Sah Ibadah Sunnah, Fardhu Tidak Sah
Penggabungan niat juga dapat berakibat sebaliknya, yakni hanya ibadah sunnah yang sah, sementara ibadah wajibnya tidak terpenuhi.
Contohnya, ketika seseorang memberikan uang kepada fakir miskin dengan niat zakat wajib sekaligus sedekah. Dalam hal ini, yang dianggap sah hanyalah sedekahnya, bukan zakat wajib.
4. Tidak Sah Keduanya
Pada kategori ini, penggabungan niat justru membuat kedua ibadah tidak sah, baik yang wajib maupun sunnah.
Contohnya, seseorang berniat shalat fardhu sekaligus shalat sunnah rawatib dalam satu niat.
Dalam kondisi ini, keduanya dianggap tidak sah karena masing-masing ibadah memiliki tuntutan niat yang berbeda dan tidak bisa digabungkan.
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Syaban
Berikut ini bacaan niat puasa qadha Ramadhan yang dapat dilafalkan ketika berpuasa di bulan Syaban.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin:
Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaa'i fardhi syahri ramadhaana lillaahi ta'aalaa.
Artinya:
“Aku berniat mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta'ala.”
Bacaan Niat Puasa Sunah Syaban
Selain niat qadha Ramadhan, umat Islam juga dapat membaca niat puasa sunnah Syaban sebagai ibadah tambahan.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnati Sya‘bana lillahi ta‘aalaa.
Artinya:
“Aku berniat puasa sunah Syaban esok hari karena Allah SWT.”
Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN
Tata Cara Puasa Bulan Syaban
Secara umum, tata cara puasa sunnah Syaban tidak berbeda dengan puasa sunnah pada bulan-bulan lainnya. Berikut tahapan pelaksanaannya.
- Membaca niat puasa pada malam hari: Niat puasa sunnah Syaban dianjurkan dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.
- Mengonsumsi sahur: Sahur dianjurkan untuk memberikan kekuatan selama menjalankan puasa, meskipun hukumnya sunnah.
- Menyelesaikan sahur sebelum Subuh: Waktu sahur diakhiri sebelum masuk waktu Subuh atau sebelum terbit fajar shadiq.
- Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa: Puasa dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
- Berbuka puasa saat Magrib: Ketika waktu Magrib tiba, umat Islam disunnahkan untuk segera berbuka puasa.
- Membaca doa berbuka puasa: Setelah berbuka, dianjurkan membaca doa sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Tata Cara Puasa Qadha Ramadhan
Pelaksanaan puasa qadha Ramadhan pada prinsipnya sama dengan puasa wajib di bulan Ramadhan. Berikut tahapannya.
- Membaca niat puasa qadha pada malam hari: Niat wajib dibaca pada rentang waktu malam hingga sebelum terbit fajar sebagai salah satu rukun puasa qadha.
- Sahur: Sahur dianjurkan untuk membantu menjaga stamina selama berpuasa.
- Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa: Puasa dilaksanakan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
- Berbuka puas: Setelah matahari terbenam, puasa diakhiri dengan berbuka dan membaca doa berbuka puasa.
