Atas dasar itu, pihaknya mendorong daerah untuk mengambil langkah-langkah kebijakan adaptif sesuai kondisi wilayah masing-masing.
“Pemerintah daerah perlu mengidentifikasi potensi surplus dan defisit melalui neraca pangan wilayah, memperkuat cadangan pangan pemerintah daerah, serta menjalin kerja sama antar daerah untuk menjamin pasokan sepanjang tahun,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya koordinasi dengan Perum BULOG dalam mengoptimalkan penyaluran beras SPHP dan bantuan pangan, penyusunan rencana Gerakan Pangan Murah sepanjang tahun, pengembangan kios pangan sebagai outlet penyeimbang inflasi.
"Serta peningkatan monitoring pasokan dan harga pangan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)," ujar dia.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) sekaligus Pelaksana Tugas Sekretaris Utama BPS, Pudji Ismartini menyampaikan, tekanan inflasi pada awal Ramadan merupakan pola serupa setiap tahun.
Baca Juga: Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Simak Jadwal Ramadan dan Libur Lebaran di Sini
“Secara historis, pada awal Ramadan selalu terjadi inflasi. Komoditas yang konsisten memberikan andil inflasi terbesar adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Ini harus segera diantisipasi karena kita akan memasuki bulan Ramadan bulan depan,” ucap dia.
Meski begitu, perkembangan positif pada sejumlah komoditas hortikultura di pertengahan Januari.
“Harga cabai rawit turun sebesar 10,91 persen dan bawang merah turun 3,59 persen,” tuturnya. (cr-4)
