PANDANGAN DAVE LAKSONO
Wakil Ketua Komisi I DPR RI
Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kembali menjadi sorotan setelah sejumlah negara Eropa dikabarkan tengah membahas kemungkinan penempatan pasukan NATO di Greenland.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi kolektif untuk meredakan kekhawatiran atas meningkatnya dinamika keamanan, sekaligus menjaga stabilitas di wilayah yang semakin memiliki arti penting bagi komunitas internasional.
Isu tersebut mencuat seiring laporan media yang menyebutkan adanya diskusi di lingkaran kebijakan Washington mengenai rencana militer terkait Greenland.
Pernyataan Presiden Donald Trump yang menekankan bahwa Amerika Serikat “sangat membutuhkan” Greenland karena meningkatnya aktivitas Rusia dan Tiongkok di kawasan tersebut, telah menimbulkan respons tegas dari Denmark sebagai negara yang memiliki kedaulatan atas pulau itu.
Situasi ini menunjukkan bahwa Greenland kini bukan hanya menjadi isu bilateral antara Amerika Serikat dan Denmark, melainkan juga titik krusial dalam perebutan pengaruh global di Arktik, yang menuntut pendekatan diplomasi multilateral untuk menjaga keseimbangan dan perdamaian kawasan.
Mengapa Amerika Serikat Begitu Mengincar Greenland Greenland memiliki arti strategis yang sangat besar bagi Amerika Serikat karena tiga faktor utama yang saling berkaitan yaitu posisi geopolitik, kekayaan sumber daya alam, dan potensi jalur pelayaran utara.
Secara geografis, pulau ini terletak di antara Amerika Serikat dan Eropa, tepat di jalur GIUK gap (Greenland–Iceland–United Kingdom), yang menjadi pintu masuk penting dari Arktik menuju Atlantik.
Lokasi tersebut menjadikan Greenland sebagai titik kunci dalam pengendalian akses perdagangan dan keamanan di Atlantik Utara, sekaligus memperkuat posisi pertahanan Amerika Serikat terhadap potensi ancaman dari Rusia maupun Tiongkok.
Selain memiliki posisi geopolitik yang strategis, Greenland juga menyimpan cadangan energi dan mineral yang sangat signifikan.
Pulau ini diketahui memiliki potensi minyak dan gas yang besar,serta mineral tanah jarang yang menjadi komponen vital dalam berbagai sektor industri modern, mulai dari pengembangan energi terbarukan hingga teknologi pertahanan.
Laporan Arctic Council mencatat bahwa lebih dari 30 persen cadangan gas alam dunia dan sekitar 13 persen cadangan minyak bumi belum dieksplorasi di kawasan Arktik.
Sementara itu, data US Geological Survey memperkirakan Greenland memiliki cadangan mineral tanah jarang mencapai 1,5 juta metrik ton. Dalam konteks global, dominasi Tiongkok atas lebih dari 60 persen pasokan mineral tanah jarang menjadikan keberadaan cadangan di Greenland sebagai peluang strategis bagi Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan, sekaligus memperkuat kemandirian industri dan keamanan ekonominya.
Perubahan iklim juga menambah urgensi kawasan ini. Mencairnya es di Arktik membuka jalur pelayaran baru yang dapat memangkas waktu pengiriman barang dari Asia ke Eropa hingga 40% dibandingkan jalur tradisional melalui Terusan Suez atau Selat Malaka.
Jalur utara ini bukan hanya soal efisiensi logistik, tetapi juga soal pengaruh dalam rantai perdagangan global. Amerika Serikat melihat peluang tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan dominasi ekonomi dan militer. Rivalitas global semakin menegaskan pentingnya Greenland bagi Amerika Serikat.
Rusia telah lama menjadikan kawasan Arktik sebagai bagian utama pertahanannya, sementara Tiongkok sejak 2018 menyebut diri sebagai “negara dekat-Arktik” dan mendorong jalur perdagangan baru melalui Polar Silk Road.
Dalam kondisi ini, Washington tidak ingin tertinggal dalam perebutan pengaruh di wilayah yang berubah cepat akibat krisis iklim. Presiden Donald Trump menekankan bahwa Greenland vital bagi keamanan nasional, dengan alasan meningkatnya aktivitas Rusia dan Tiongkok di sekitar pulau tersebut.
Implikasi Bagi Indonesia Perkembangan geopolitik di Greenland dan kawasan Arktik memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar hubungan transatlantik.
Bagi Indonesia, isu ini penting karena menyangkut jalur perdagangan global. Dengan lebih dari 90 ribu kapal melintas di Selat Malaka setiap tahun, munculnya jalur pelayaran baru di Arktik akibat mencairnya es berpotensi menggeser sebagian arus perdagangan internasional.
Jika jalur utara semakin diminati, Indonesia harus memperkuat daya saing pelabuhan nasional, meningkatkan efisiensi logistik, serta memastikan Selat Malaka tetap aman dan relevan sebagai jalur strategis dunia. Selain aspek ekonomi, Indonesia juga berkepentingan menjaga stabilitas global.
Eskalasi militer di Greenland dapat memicu ketegangan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, yang pada akhirnya berimbas pada keseimbangan politik internasional.
Sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip non-blok, Indonesia dapat menegaskan komitmen diplomatisnya melalui forum multilateral seperti PBB, sekaligus memperkuat posisi ASEAN sebagai aktor regional yang peduli terhadap perdamaian dunia.