POSKOTA.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik. Namun, Menteri Keuangan, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan.
Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.
Purbaya menyebut tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan sejalan dengan dinamika global. Ia optimistis, penguatan nilai tukar akan terjadi secara alami seiring perbaikan kinerja ekonomi nasional dan meningkatnya kepercayaan investor.
Baca Juga: Tekan Rokok Ilegal, Menkeu Purbaya Siapkan Layer Baru Tarif Cukai untuk Kejar Penerimaan Negara
Dasar Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Menurut Purbaya, perbaikan kondisi ekonomi domestik akan menjadi faktor utama penguat rupiah. Ketika pertumbuhan ekonomi terus menunjukkan tren positif, aliran modal asing diyakini akan kembali masuk ke Indonesia.
“Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah menguat juga, hampir otomatis,” ujar Purbaya saat ditemui awak media di Jakarta, Rabu 14 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa investor global cenderung menempatkan dananya di negara dengan prospek pertumbuhan tinggi dan stabil. Dalam konteks ini, Indonesia masih dinilai sebagai tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Ekonomi Tetap Terkendali
Proyeksi Pertumbuhan Dorong Optimisme Investor
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 berada di kisaran 5,45 persen. Purbaya optimistis, laju pertumbuhan tersebut dapat terus meningkat pada periode berikutnya dan mendekati level 6 persen pada 2026.
Dengan proyeksi tersebut, kepercayaan investor diyakini akan semakin menguat. Arus modal asing yang masuk tidak hanya menopang nilai tukar rupiah, tetapi juga mendorong aktivitas investasi dan ekspansi usaha di dalam negeri.
“Pondasi kita kuat, karena modal akan masuk ke sini,” tegas Purbaya.
Rupiah Diproyeksi Menguat dalam Dua Pekan
Selain optimisme jangka menengah, Purbaya juga memperkirakan rupiah berpeluang menguat dalam waktu dekat. Ia menyebut, dalam dua pekan ke depan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi membaik seiring respons pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Sebelumnya, rupiah sempat berada di level Rp16.870 hingga Rp16.877 per dolar AS. Meski pergerakannya masih fluktuatif, pemerintah menilai tren tersebut masih dalam batas yang wajar.
Purbaya juga menambahkan bahwa meningkatnya keyakinan investor dapat mendorong kembalinya dana milik warga Indonesia yang sebelumnya ditempatkan di luar negeri untuk kembali diinvestasikan di dalam negeri.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Buka Suara Soal KPK Razia Kantor Direktorat Jenderal Pajak
Dinamika Global Masih Tekan Pergerakan Rupiah
Di sisi lain, sejumlah faktor global masih memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Tekanan berasal dari ketidakpastian politik di Amerika Serikat, termasuk investigasi terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang memicu kehati-hatian pelaku pasar global.
Selain itu, rencana kebijakan tarif Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran turut membayangi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, pemerintah tetap meminta masyarakat untuk bersikap tenang. Dengan fundamental ekonomi yang dinilai solid dan prospek pertumbuhan yang positif, rupiah diyakini memiliki ruang untuk kembali menguat seiring membaiknya sentimen pasar.