Setelah peristiwa tersebut, ia mengaku terlempar ke tahun 2006 dan ditemukan dalam kondisi pingsan di sebuah kebun salak di wilayah pegunungan.
Waktu kemunculannya disebut bertepatan dengan gempa bumi besar, sehingga kehadirannya tidak menimbulkan kecurigaan berarti.
Terjebak di Era Modern Sejak 2006
Manunggu mengklaim dirinya dirawat oleh seorang pria bernama Wandi setelah sadar. Ia menyebut terbangun dalam wujud bocah berusia sekitar 10 tahun, dengan kondisi linglung dan hanya mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno.
Pak Wandi, menurut pengakuannya, mengira Manunggu adalah anak korban bencana yang mengalami trauma berat. Perbedaan bahasa dan latar belakang memang sempat menimbulkan kebingungan, namun Manunggu akhirnya hidup di bawah asuhan Wandi selama bertahun-tahun.
Kisah ini menjadi salah satu bagian yang paling banyak diperdebatkan warganet, terutama terkait kemungkinan adaptasi bahasa dan identitas sosial.
Menjawab keraguan publik, Manunggu menjelaskan bahwa dirinya telah belajar dan beradaptasi dengan kehidupan modern sejak 2006. Ia mengaku mempelajari bahasa Indonesia, teknologi, hingga kebiasaan masyarakat masa kini.
“Aku bukan manusia purba. Terlempar ke tahun 2006, dan itu sudah dua puluh tahun lalu. Tentu aku belajar cara pakai ponsel, mengisi paket data, sampai hal sederhana seperti menggunakan toilet,” tulisnya dalam salah satu unggahan.
Pernyataan ini menjadi dasar pembelaan terhadap kritik warganet yang mempertanyakan kefasihannya menggunakan media sosial.
Kemunculan Akun Smanunggu pada awal 2026, menurut pengakuannya, didorong oleh keinginan menemukan kembali Gaba dan Suwari. Ia menduga kedua rekannya juga terlempar ke waktu atau lokasi berbeda, namun masih berada di sekitar tahun 2006.
Ia bahkan meminta bantuan warganet untuk mengumpulkan petunjuk, termasuk cerita tentang orang asing yang tiba-tiba muncul pada periode tersebut. Ajakan ini membuat interaksi di Threads semakin intens dan meluas.
Hingga kini, tidak ada bukti empiris yang dapat memverifikasi klaim Akun Smanunggu sebagai penjelajah waktu. Meski demikian, fenomena ini menunjukkan kuatnya daya tarik cerita personal di era saat ini.
