POSKOTA.CO.ID - Memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings mendadak menyita perhatian publik.
Antusiasme pembaca begitu tinggi hingga tautan Google Drive yang dibagikan Aurelie belum bisa diakses akibat lonjakan trafik yang luar biasa.
Dalam memoar di google drive yang dibagikan, Aurelie membuka lembaran kelam perjalanan hidupnya. Ia mengungkap pengalaman pahit yang dialami sejak usia belia, termasuk dugaan praktik child grooming yang membekas hingga dewasa.
Tak hanya itu, Aurelie juga menyinggung sosok Roby Tremonti, mantan kekasihnya, yang diduga memaksanya menikah saat masih di bawah umur. Hubungan keduanya kembali menjadi sorotan sejak awal 2025, seiring mencuatnya kembali isu pernikahan mereka pada Oktober 2011.
Pernikahan Tidak Sah

Pernikahan tersebut disebut penuh kejanggalan. Aurelie menegaskan bahwa ikatan yang dijalani tidak sah secara hukum maupun agama. Ia bahkan mengklaim Roby menyuap pihak gereja agar prosesi pernikahan dapat berlangsung tanpa kehadiran orang tua dan tanpa pencatatan resmi negara.
Dalam pengakuannya, Roby disebut harus mengeluarkan dana puluhan juta rupiah setelah mendatangi banyak gereja yang menolak menikahkan pasangan di bawah umur. Akhirnya, pernikahan itu dilakukan secara diam-diam.
Selama dua tahun menjalani pernikahan, Aurelie mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga serta tekanan untuk bekerja. Ia akhirnya memilih berpisah pada 2013 demi menyelamatkan diri.
Dilansir dari laman YouGov dengan judul "Three in ten Indonesian women have experienced sexual harassment" pada Selasa, 13 Januari 2026. Hanya sekitar 43 persen korban pelechan yang melapor atau menceritakan kejadian itu kepada seseorang (termasuk keluarga/teman), yang berarti lebih dari 50 persen tidak melapor sama sekali.
Jejak Digital dan Upaya Pelaporan
Kisah ini turut mengingatkan publik pada jejak digital lama. Pada 2010, Aurelie bersama sang ibu, Sri Sumarti, sempat mendatangi KPAI untuk melaporkan dugaan child grooming, mengingat selisih usia keduanya mencapai 11 tahun.
Ketua KPAI saat itu, Hadi Supeno, menyatakan laporan tersebut masih dalam tahap analisis dan membutuhkan klarifikasi dari semua pihak terkait.
Sebelum ke KPAI, Aurelie dan ibunya juga mendatangi Komnas Perlindungan Anak yang berada di bawah binaan Seto Mulyadi.
Namun hingga kini, Aurelie menyebut tidak pernah mendapatkan kejelasan mengenai hasil mediasi yang dilakukan.
Memoar Broken Strings tak sekadar menjadi catatan pribadi, tetapi juga menyoroti isu serius seperti pernikahan anak, KDRT, serta lemahnya perlindungan terhadap korban.
Pengakuan ini pun dinilai berpotensi membuka diskusi publik yang lebih luas.
