TANGERANG, POSKOTA.CO.ID - Warga sekitar Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan depan Pasar Cimanggis terus memprotes keberadaan gunungan sampah di lingkungan tersebut.
Menanggapi protes warga tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Bani Khosiyatullah mengatakan bahwa kuota pembuangan sampah di wilayahnya masih terbatas.
"Sementara kuota (pembuangan sampah) kita masih terbatas," ujarnya pada Selasa, 6 Januari 2026.
Bani menjelaskan, saat ini kuota pembuangan sampah dari Tangsel terbatas hanya 500 ton per harinya dan pengiriman sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) Cilowong, Serang hanya 10 truk per hari.
Baca Juga: Gunungan Sampah Makan Badan Jalan di Tangsel, Warga Terganggu
"Pengangkutan sampah dilakukan bergantian, belum bisa dilaksanakan secara serentak karena kuota kita belum optimal," jelasnya.
Ia berharap, permasalahan sampah di Kota Tangerang Selatan ini dapat segera teratasi dengan kerja sama dari semua pihak dalam upaya mengelola sampah dari hulu ke hilir.
"Semoga bisa teratasi dengan segera. Terutama pada lokasi atau tempat umum yang bisa mengganggu kenyamanan warga serta pengguna jalan," tuturnya.
Baca Juga: DLH Kota Bekasi Berpartisipasi Aktif dalam Pengendalian Sampah saat Perayaan Nataru
Dampak Buruk Tumpukan Sampah

Mengutip dari akun Instagram @official.primaku penumpukan sampah yang terjadi di Tangerang Selatan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan terutama anak-anak.
Akun tersebut menyebutkan penumpukan sampah itu akibat dari penutupan sementara TPA Cipeucang yang sedang diperbaiki, sehingga sampah rumah tangga menumpuk di pinggir jalan dan kolong flyover.
“Tidak ada tempat pembuangan lain, mengakibatkan bau busuk dan pemandangan tidak nyaman,” bunyi keterangan akun tersebut.
Selain itu, tumpukan sampah tersebut bisa menyebabkan tercemarnya udara akibat sampah membusuk dan menghasilkan gas berbahaya.
Baca Juga: Diduga Dampak Sampah TPA Cipeucang, Sejumlah Warga Mulai Terjangkit Penyakit Kulit dan ISPA
Adapun rincian gas berbahaya yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut, antara lain:
- Hidrogen Sulfida (H2S): Bau tajam yang bisa mengganggu saraf jika terhirup banyak
- Amonia (NH3): Sampah dari sisa hewan atau tumbuhan yang bisa menyebabkan iritasi saluran napas
- Metana (CH4): Gas ini paling banyak di TPA, akibat dari pemanasan global serta bisa menganggu pernapasan
Lebih lanjut, gas berbahaya lain yang dihasilkan dari tumpukan sampah yakni CO2, SO2 dan NO2 yang berisiko bagi pernapasan.
“Dekat tumpukan sampah bukan cuma bau tidak sedap, tapi juga bisa membahayakan pernapasan dan saraf,” keterangan dari akun @official.primaku.
Kendati demikian bagi warga yang berada di Tangerang Selatan, sebaiknya hindari membawa anak terlalu dekat dengan tumpukan sampah yang kini menjadi persoalan.
Apabila terpaksa berada di sekitar area tersebut, pastikan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak.