JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai maraknya tawuran yang kembali terjadi di kawasan Manggarai dan sekitarnya merupakan persoalan sosial lama yang belum pernah terselesaikan secara tuntas.
Menurut Rissalwan, berbagai program yang diluncurkan pemerintah daerah, termasuk Manggarai Bersholawat, merupakan langkah positif, namun belum menyentuh akar persoalan.
"Ini satu hal yang memang memprihatinkan ya. Padahal tahun lalu itu Pak Gubernur sudah meluncurkan program Manggarai Bersholawat ya. Manggarai Bersholawat itu ya salah satu cara saja, tapi itu tidak mengatasi akar masalah," ucap Rissalwan kepada Poskota, Senin, 5 Januari 2026.
Baca Juga: Kriminolog Nilai Tawuran Manggarai Berpotensi Jadi Pengalihan Peredaran Narkoba
Ia menegaskan, tawuran di Manggarai bukan fenomena baru. Konflik antarkelompok di wilayah tersebut telah berlangsung sejak dekade 1970-an dan terus berulang lintas generasi.
"Tawuran ini kan sudah cerita lama ya, sudah dari tahun 70-an, jadi sudah berdekade-dekade ya, sudah hampir 50 tahun, sudah 40 tahun begitu permasalahan ini muncul terus," ujar Rissalwan.
Rissalwan menjelaskan, salah satu akar persoalan tawuran adalah kebencian yang diwariskan secara tidak sadar dari orang tua kepada anak-anak sejak dini, sehingga membentuk pola pikir negatif terhadap kelompok atau kampung lain.
"Menurut saya, kalau mau mengobati akarnya, ya generasi mudanya itu diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang menyalurkan energi mereka ya, energi anak muda itu," kata Rissalwan.
Baca Juga: Mengapa Tawuran Terus Terjadi di Terowongan Manggarai
Ia menilai, energi besar anak muda yang tidak tersalurkan dengan baik berpotensi meledak dalam bentuk konflik sosial.
"(Menyelenggarakan) Ya, kompetisi, tapi kompetisi yang jangan sampai malah memicu tawuran ya. Kalau kita buat lomba voli, lomba futsal, mungkin bisa malah bikin tawuran tuh kalau ada kecurangan dan lain-lain," ungkapnya.
Rissalwan mengusulkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan kreatif dengan insentif atau hadiah rutin, misalnya setiap bulan, untuk mendorong partisipasi anak muda.
"Setiap bulan akan diberikan hadiah misalnya katakan 1 juta untuk konten terbaik gitu ya. Nah, jadi konten terbaik untuk yang dari kampung satu yang satu dan kampung yang lainnya," ujar dia.
Menurutnya, anggaran kegiatan tersebut relatif kecil dibanding dampak sosial yang dihasilkan.
"Mau dibuat 5 juta per bulan juga saya kira enggak akan mahal tuh. Sebetulnya prinsipnya semua orang menang, ya. Sama kayak di kompetisi karate misalnya untuk kelas festival, sebetulnya semua yang hadir itu menang dapat piala gitu. Everybody happy gitu ya. Jadi menciptakan forum-forum yang everybody happy," ucap Rissalwan.
Baca Juga: Polisi Petakan Titik Rawan Tawuran, Warga Manggarai Minta Solusi Nyata
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menyimpulkan adanya pihak tertentu yang menghasut tawuran. Menurutnya, konflik sering dipicu hal sepele akibat rapuhnya relasi sosial antarkelompok, terutama pada momen rawan seperti malam Tahun Baru.
"Dan menurut saya sih jangan terlalu gegabah juga Pak Gubernur menyampaikan kemarin di berita itu ya, 'Ini ada pihak-pihak yang menghasut'. Kalau menurut saya tidak, ya memang mereka itu rentan terhadap gesekan ya. Rentan ya dalam konteks interaksi sosial begitu ya," kata dia.
"Apalagi misalnya pas malam tahun baru, saya menduga itu ada mungkin bakar petasan enggak sengaja mungkin terarah ke kampung sebelah, terus dibilang 'Wah, yang sebelah nantang tuh' gitu," sambungnya. (cr-4)