JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Munculnya kasus Super Flu di Indonesia mendapat beragam sorotan dari masyarakat.
Secara umum, super flu bukan penyakit baru dan tidak lebih berbahaya dari COVID-19, namun dinilai lebih cepat menular dibandingkan flu musiman biasa.
Gejalanya mirip influenza pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala, tetapi pada sebagian orang terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta keluhannya bisa terasa lebih berat.
Baca Juga: Antisipasi Rob Saat Supermoon, DPRD DKI Minta Pemprov Perkuat Mitigasi Bencana
Rania (30) warga Menteng, mengaku sudah mengetahui informasi mengenai Super Flu dari media sosial.
Menurutnya, penyakit tersebut digambarkan memiliki gejala mirip flu biasa seperti batuk dan pilek, namun dengan kondisi yang lebih parah.
“Sebenernya saya udah tahu sih kalau ada penyakit itu dari sosmed, kayak penyakit batuk pilek gitu, cuma katanya lebih parah,” ujar Rania kepada Poskota, Minggu, 4 Januari 2025.
Ia mengakui sempat merasa khawatir karena istilah Super Flu mengingatkannya pada situasi pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Puskesmas Jatinegara Pastikan Tak Ada Kasus Super Flu, Warga Diminta Tak Panik
Rania juga menyebut, kemiripan gejala seperti batuk dan pilek membuat kekhawatiran itu muncul.
“Kalau dibilang khawatir mah khawatir, takutnya kayak COVID beberapa tahun lalu, soalnya kan batuk pilek tapi parah,” ucap Rania.
Meski demikian, Rania berharap pemerintah dapat mengendalikan penyebaran penyakit tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
“Ya harapannya sih pemerintah bisa ngendaliin itu penyakit biar enggak menyebar ke masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Kakorlantas Polri Pastikan Kondisi Jalur Puncak Aman, Berkat Bantuan Supeltas
Sementara itu, Toni (28) warga Kayu Tinggi, mengaku belum banyak mengetahui mengenai Super Flu. Ia mengatakan sejauh ini hanya memahami flu secara umum tanpa mengetahui adanya istilah Super Flu.
“Kurang tahu sih kalau ada penyakit Super Flu, taunya mah flu doang,” kata Toni.
Meski minim informasi, Toni tetap berharap pemerintah dapat melakukan langkah pencegahan sejak dini agar penyakit tersebut tidak masuk dan menyebar di Jakarta.
“Harapannya sih bisa cepat dicegah sama pemerintah, jangan sampai masuk ke Jakarta,” ujar Toni. (cr-4)