Potret rumah tenaga honorer SMPN 2 Cibadak yang hampir ambruk. (Sumber: istimewa)

JAKARTA RAYA

Miris! Tenaga Honorer di Kabupaten Lebak Tinggal di Gubug Reyot

Jumat 12 Des 2025, 14:22 WIB

LEBAK, POSKOTA.CO.ID - Kisah pilu menyelimuti kehidupan seorang tenaga honorer SMPN 2 Cibadak, Cacang Hidayat 55 tahun warga Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten.

Ia beserta keluarganya tinggal di rumah tak layak huni. Cacang mengabdi selama 24 tahun di SMPN 2 Cibadak sebagai penjaga sekolah dan perpustakaan.

Namun, pengabdiannya itu tak berbanding lurus dengan kondisi kehidupannya saat ini.

Ia bercerita sudah 24 tahun menempati rumah ini bersama istri dan anak-anaknya. Tetapi, ia tak kuasa membenahi rumahnya tersebut karena keterbatasan biaya.

Baca Juga: Rano Karno Sebut Indeks Ketimpangan Gender di Jakarta Turun

Pasalnya, ia hanya bekerja sebagai pegawai honorer dengan penghasilan sekira Rp556 ribu perbulan.

"Penghasilan dari hasil pekerjaan saya hanya cukup buat menyambung hidup. Itu pun dicukup-cukupin. Sehingga tidak bisa buat perbaiki rumah," ungkap Cacang, Jumat 12 Desember 2025.

Cacang menuturkan jika dirinya mulai bekerja sebagai pegawai honorer pada bulan Juni 2001 lalu.

Selama lebih dari 24 tahun mengabdi, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh ikhlas meski penghasilannya hanya sebesar Rp556.000 per bulan.

Baca Juga: Maling Motor di Bogor Terekam CCTV, Sekali Beraksi Hampir Gasak Dua Unit

"Cukup tidak cukup, ya itu yang ada. Kami atur seadanya. Kadang ada tambahan dari kebun, atau istri bantu kerja. Alhamdulillah masih bisa bertahan," katanya.

Kemudian untuk menuju sekolah tempatnya bekerja, ia harus berjalan kaki sekitar 8-9 kilometer, dengan menempuh perjalanan dua jam setiap harinya.

"Saya berangkat pukul 05.00 WIB. Biasanya jalan kaki sekitar dua jam, pulang pergi begitu setiap hari. Kadang ada juga yang memberi tumpangan," ujarnya.

Baca Juga: Satpol PP Bekasi Amankan 20 Gereja Jelang Natal, Gandeng Densus 88 Antisipasi Radikalisme

Potret Buram Pekerja Honorer di Indonesia

Cacang Hidayat 55 tahun, seorang tenaga honorer di SMPN 2 Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten saat menunjukan kondisi bangunan rumahnya. (Sumber: Istimewa)

Kisah Cacang ini menjadi potret buram perjuangan tenaga honorer di pelosok negeri, ia yang sudah puluhan tahun menjaga sekolah, merawat perpustakaan, dan mendukung pendidikan anak bangsa, namun masih harus berjuang keras sekadar memiliki tempat tinggal yang aman serta nyaman.

Selama puluhan tahun, Cacang bersama istrinya, Enok Sutirah 43 tahun, serta ke enam anaknya tinggal di sebuah bangunan tua yang lebih menyerupai gubuk rapuh, tanpa fasilitas memadai dengan kondisi serba terbatas.

Kondisi bangunan yang mereka tempati jauh dari kata layak dan sudah banyak kerusakan. Dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu sudah banyak yang ambrol, serta atap rumah yang terbuat dari genteng banyak yang bocor.

Saat malam hari, Cacang dan keluarganya harus menahan dinginnya angin malam yang menembus pada celah-celah bilik bambu. Apalagi saat memasuki musim penghujan, ia dan keluarganya harus menambal bagian atap rumah yang bocor agar air hujan tak membanjiri bagian dalam rumah.

Baca Juga: Usai Tragedi Mobil Tabrak Siswa, SDN Kalibaru 01 Terapkan PJJ Sementara

Selain itu, kondisi bangunan tampak sudah terlihat miring dan memprihatinkan, bahkan tiang-tiang penyangga tampak keropos dan nyaris ambruk. Tidak ada lantai ubin maupun keramik, yang ada hanya tanah keras yang menjadi alas seluruh aktivitas di rumah tersebut.

Sementara, tempat tidurnya terbuat dari ranjang bambu yang sudah tak layak pakai, karena telah lapuk dimakan rayap.

Dengan pendapatan terbatas, kebutuhan keluarga kerap disokong hasil kebun dan upah istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus membantu di pembibitan jamur.

"Penghasilan saya seminggu kadang dapat Rp200.000 atau Rp300.000. Tidak ada target, tergantung yang punya pekerjaan," tuturnya.

Baca Juga: Pria di Tangerang Ditangkap usai Ketahuan Curi Pipa Tembaga AC

Menurutnya, rumah yang ditempati keluarga itu dibangun pada tahun 2000 dan tak pernah direnovasi.

Kondisi bangunan semakin parah setelah sebuah pohon tumbang menimpa atap rumahnya beberapa waktu lalu.

"Saya tidak mampu memperbaikinya, jadi dibiarkan saja. Sampai sekarang masih berantakan," tuturnya.

Lebih lanjut, yang membuat hatinya semakin sedih ialah keluhan anak-anak yang kerap membandingkan kondisi rumah mereka dengan rumah teman-temannya.

"Kadang mereka bilang, 'Pak, rumah orang bagus-bagus.' Saya jawab, jangan lihat ke atas dulu. Sabar, insya Allah ada rezekinya," ucapnya.

Meski hidup serba kekurangan, Cacang tetap bekerja karena tidak memiliki keahlian lain dan harus menafkahi keluarga.

Setelah bertahun-tahun mengikuti berbagai seleksi seperti CPNS, PPPK, tahun ini ia akhirnya dinyatakan lolos sebagai PPPK Paruh Waktu.

"Nomor NIP sudah keluar. Tinggal menunggu pelantikan bulan Desember ini informasinya. Alhamdulillah ada pengangkatan," ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Di balik kabar baik tersebut, Cacang menyimpan satu harapan besar yakni ingin memiliki rumah yang layak untuk berlindung keluarganya.

"Pinginnya punya rumah layak, tidak harus mewah. Yang penting tidak bocor dan tidak takut roboh," ujarnya.

Tags:
tenaga honorerhonorerCPNS PPPK Paruh WaktuSMP Negeri 2 CibadakBanten

Samsul Fatoni

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor