Warga Kampung Ujung, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Minggu, 30 November 2025. (Sumber: POSKOTA | Foto: M Tegar Jihad)

JAKARTA RAYA

DPRD DKI Minta Relokasi Warga Kampung Ujung Dilakukan Humanis dan tak Merugikan

Minggu 30 Nov 2025, 20:47 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Rencana relokasi warga Kampung Ujung, Kebon Nanas, Jakarta Timur, terus mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, mengatakan, pihaknya memahami keresahan masyarakat yang menetap di area TPU itu.

Banyak di antara warga Kampung Ujung yang telah tinggal lebih dari satu dekade dan memiliki keterikatan sosial maupun ekonomi yang kuat dengan lingkungan sekitar.

“Pertama, saya memahami keresahan warga yang tinggal di sekitar atau di dalam area TPU Kebon Nanas. Banyak dari mereka sudah puluhan tahun bermukim dan tentu memiliki keterikatan ekonomi maupun sosial dengan lingkungannya," ucap Ali kepada Poskota, Minggu, 30 November 2025.

Baca Juga: Relokasi Warga Kampung Ujung Jadi Sorotan, Distamhut DKI: Keterbatasan Lahan Pemakaman

Menurut Ali, penataan kawasan yang berdiri di atas lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas itu tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.

"Karena itu, rencana relokasi yang akan dilakukan pemprov jakarta harus dilakukan secara sangat hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak dan keributan di lapangan," ujar Ali.

Ali menekankan kepada Pemprov Jakarta wajib memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan, humanis, dan transparan.

"Jangan sampai warga diminta pindah sebelum kejelasan lokasi relokasi, fasilitas, dan skema bantuan dipastikan terlebih dahulu," ungkap Ali.

Ali menilai, sebelum melakukan penertiban atau relokasi, Pemprov DKI perlu terlebih dahulu memastikan dan menunjukkan legalitas atas lahan TPU Kebon Nanas kepada warga.

"Termasuk dokumen sertifikat atau Berita Acara Serah Terima (BAST) jika ada, Agar masyarakat tidak merasa dirugikan dan memiliki kepastian hukum," ujar dia.

Selain itu, dikatakan Ali, relokasi tidak dapat dilakukan apabila lokasi baru belum ditetapkan secara resmi, misalnya rumah susun, dan tanpa adanya skema dukungan bagi warga berpenghasilan rendah.

"Dimana hal ini sesuai prinsip dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, terutama mengenai penyelenggaraan ketentraman dan perlindungan masyarakat," kata Ali.

Lebih lanjut, dia menyebut, pentingnya pendekatan dialog dan musyawarah terbuka antara pemerintah dan warga, bukan pendekatan koersif.

"Pemprov wajib melakukan musyawarah dan dialog dengan warga secara terbuka, bukan pendekatan kekuasaan," ungkap dia.

"Hal ini sesuai dengan UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah pelayanan publik harus mengutamakan kepentingan masyarakat," jelasnya.

Mengingat sebagian besar warga menolak relokasi lantaran alasan ekonomi, Ali meminta Pemprov menyediakan jaminan perlindungan sosial sebelum langkah pemindahan dilakukan.

"Bantuan sewa sementara jika dibutuhkan (sesuai Pergub tentang Bansos), pendampingan sosial dari Dinsos (sesuai Permensos 11/2019 tentang Penanganan Fakir Miskin). serta Jaminan tidak ada penertiban sebelum solusi ekonomi diberikan," ujarnya.

Baca Juga: Warga Kampung Ujung Tolak Relokasi, Merasa Bakal Makin Miskin jika Tinggal di Rusun

Ali mengakui bahwa secara aturan, Pemprov DKI memang memiliki dasar hukum untuk melakukan penataan kawasan TPU, yaitu Perda No. 2 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pemakaman dan Pergub No. 132 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Pemakaman.

"Namun penataan itu tidak boleh mengabaikan hak dasar warga, apalagi jika mereka sudah lama bermukim," ucapnya.

Ali mengungkapkan bahwa DPRD DKI Jakarta mendukung penataan TPU agar lebih tertib. Namun, prosedurnya yang dilakukan tidak boleh merugikan warga kecil.

"Seluruh langkah harus memenuhi aturan hukum, mengutamakan dialog, dan tidak menimbulkan kegaduhan. Karena Pemerintah daerah punya kewajiban melindungi, bukan mempersulit," kata dia. (cr-4)

Tags:
Jabodetabek TPUrelokasi warga kampung ujungDPRD DKI JakartaAli LubisKampung Ujung

Tim Poskota

Reporter

Mohamad Taufik

Editor