Bagi banyak orang, keberanian Salsa menantang seorang politisi senior bisa dianggap sebagai sikap idealis. Namun justru di situlah letak kekuatannya: suara idealisme mampu menggetarkan, bahkan ketika disuarakan oleh satu orang saja.
Lebih jauh, kisah ini menyiratkan pesan penting: bahwa keterlibatan anak muda dalam politik tidak harus melalui partai politik. Media sosial bisa menjadi ruang alternatif untuk mengawal demokrasi.
Fenomena Salsa Erwina Hutagalung yang viral menantang Ahmad Sahroni bukan hanya kisah tentang perdebatan panas di media sosial. Lebih dari itu, ini adalah cerminan tentang bagaimana generasi muda Indonesia memaknai demokrasi.
Keberanian Salsa, ditambah dengan latar belakang profesionalnya di perusahaan global seperti Vestas, menunjukkan bahwa anak bangsa mampu bersuara lantang, sekaligus berkontribusi nyata di level internasional.
Apakah kritik Salsa akan membawa perubahan? Mungkin jawabannya tidak instan. Namun, setidaknya, keberaniannya telah membuka jalan agar suara rakyat tak lagi dipandang remeh. Seperti kata pepatah, “perubahan besar selalu dimulai dari suara kecil yang berani.”