Tak Sekadar Mudik! Ini 4 Tradisi Lebaran Unik di Indonesia

Jumat 04 Apr 2025, 06:10 WIB
Salah satu tradisi Lebaran unik di Indonesia selain mudik yakni Grebeg Syawal. (Sumber: menpan.go.id)

Salah satu tradisi Lebaran unik di Indonesia selain mudik yakni Grebeg Syawal. (Sumber: menpan.go.id)

POSKOTA.CO.ID - Di Indonesia, perayaan Lebaran tidak hanya sebatas mudik atau berkumpul bersama keluarga, tetapi setiap daerah memiliki tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun.

Indonesia sebagai negara dengan keberagaman budaya dan adat istiadat memiliki berbagai tradisi unik yang dilakukan saat Lebaran.

Beberapa daerah di Indonesia bahkan menggelar ritual khusus untuk menyambut dan merayakan hari kemenangan ini.

Tradisi-tradisi tersebut bukan hanya memperkaya makna perayaan Lebaran, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan nilai-nilai budaya yang khas di setiap daerah.

Lalu, apa saja tradisi Lebaran unik di Indonesia selain mudik? Mari simak infrormasinya lebih lanjut.

Baca Juga: Apa itu Munggahan? Aktivitas yang Jadi Tradisi Jelang Puasa Ramadan

Tradisi Lebaran Unik di Indonesia

Dilansir dari kanal YouTube Intisari Online, berikut adalah beberapa tradisi Lebaran unik di Indonesia selain mudik.

1. Grebeg Syawal – Yogyakarta

Di Yogyakarta, terdapat tradisi Grebeg Syawal yang merupakan ritual Keraton Yogyakarta dalam menyambut Idul Fitri.

Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi Grebeg Syawal identik dengan arak-arakan “Gunungan,” yaitu susunan hasil bumi berbentuk gunung yang terbuat dari sayur-mayur dan bahan pangan lainnya.

Gunungan ini diarak menuju Masjid Gedhe Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan sebelum akhirnya diperebutkan oleh masyarakat.

Banyak yang percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan tersebut bisa mendatangkan berkah dan keberuntungan.

Oleh karena itu, warga yang hadir dalam upacara ini berlomba-lomba untuk mengambil bagian dari gunungan tersebut.

2. Makan Nasi Jaha – Sulawesi Utara

Di Sulawesi Utara, masyarakat Motoboi Besar memiliki tradisi unik saat Lebaran yang disebut “Binarundak”.

Tradisi ini berlangsung selama tiga hari setelah Idul Fitri dan menjadi momen kebersamaan masyarakat dalam memasak dan menikmati hidangan khas yang disebut nasi jaha.

Berbeda dengan tradisi Lebaran Ketupat di Minahasa dan Gorontalo, dalam Binarundak yang dikonsumsi bukanlah ketupat, melainkan nasi jaha.

Nasi jaha terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan dan jahe, lalu dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar hingga matang.

Acara makan bersama tidak hanya menjadi momen untuk menikmati hidangan khas, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan sepanjang tahun.

3. Nyama Selam – Bali

Di Bali, umat Muslim merayakan Lebaran dengan tradisi yang disebut “Nyama Selam.” Tradisi ini menggambarkan indahnya keberagaman dan toleransi antar umat beragama di Pulau Dewata.

"Nyama Selam" berarti "saudara Muslim." Istilah ini digunakan oleh masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu untuk menyebut saudara-saudara mereka yang beragama Islam.

Salah satu bentuk tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah “ngejot,” yaitu berbagi makanan khas Lebaran dengan tetangga, tanpa memandang perbedaan agama.

Tradisi tersebut sudah berlangsung sejak zaman kerajaan dan masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Bali.

Nyama Selam menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Bali untuk tetap menjaga persaudaraan dan saling berbagi kebahagiaan saat Lebaran.

Baca Juga: Tradisi Unik Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, dari Grebek Syawal hingga Perang Ketupat

4. Tumbilotohe – Gorontalo

Di Gorontalo, ada tradisi unik menyambut Idul Fitri yang disebut “Tumbilotohe,” yang berarti "memasang lampu".

Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15 dan dilaksanakan selama tiga malam terakhir di bulan Ramadan.

Awalnya, lampu yang digunakan dalam Tumbilotohe dibuat dari damar dan getah pohon untuk memberikan penerangan di malam hari, terutama bagi warga yang ingin membayar zakat fitrah.

Seiring berjalannya waktu, lampu damar digantikan oleh lampu minyak kelapa, kemudian minyak tanah, dan kini menggunakan lampu listrik berwarna-warni yang dipasang di berbagai tempat.

Saat ini, tradisi Tumbilotohe tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi bagian dari atraksi budaya yang menarik.

Lampu-lampu dipasang di rumah-rumah warga, jalan-jalan utama, hingga area persawahan, menciptakan suasana malam yang begitu indah menjelang Lebaran.

Itu dia beberapa tradisi Lebaran unik di Indonesia selain mudik yang beragam dengan keberagaman budaya dan adat istiadat.


Berita Terkait


News Update