Lebaran juga berasal dari kata "lebur," yang berarti peleburannya dosa-dosa selama menjalani puasa. Dalam makna lain, lebaran diartikan sebagai pelebur kasta-kasta atau tingkatan sosial.
Semua lapisan masyarakat, baik yang besar maupun kecil, melebur dalam semangat saling memaafkan di antara keluarga, tetangga, saudara, teman, dan sesama manusia.
4. Lebaran sebagai Kelebihan Rezeki
Lebaran juga dapat berasal dari kata "luber," yang berarti tumpah, meluap, atau kelebihan. Hal ini mengandung makna bahwa rezeki yang kita miliki pada hari Raya Idulfitri sebaiknya dibagikan kepada orang lain.
Zakat dan sedekah menjadi kewajiban bagi yang mampu, sebagai bentuk berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan.
5. Taburan sebagai Simbol Kembali ke Kesucian
Istilah "taburan" dalam konteks Lebaran berasal dari bahasa Jawa, yang berarti melabur atau mengecat. Pada zaman dahulu, masyarakat Jawa sering melabur atau mengecat tembok rumah dengan kapur putih menjelang Idulfitri.
Maknanya adalah kembali ke kesucian, baik dalam hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun dengan sesama manusia. Hati yang kembali suci tercermin dalam tindakan memaafkan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
6. Simbolisme Ketupat
Ketupat, yang berbentuk segi empat, menjadi simbol dari laku papat yang berarti empat hal yang harus dijalani selama Idulfitri. Ketupat ini sering kali disajikan bersama dengan opor ayam, sebagai simbol perayaan yang penuh makna.
Ajaran dan literatur tentang Sunan Kalijaga dan asal-usul Lebaran memang cukup langka, sehingga sulit ditemukan referensinya.
Namun, kebenaran informasi mengenai asal-usul Lebaran ini dapat bervariasi, tergantung pada versi dan pemahaman masing-masing.
Dengan demikian, istilah "Lebaran" memiliki beragam makna yang sangat dalam, mengajarkan kita untuk saling memaafkan, berbagi, dan kembali ke kesucian hati.
