Filosofi Sungkeman: Tradisi Lebaran di Indonesia yang Masih Dipertahankan hingga Kini

Jumat 04 Apr 2025, 07:09 WIB
Ilustrasi. Filosofi sungkeman yang menjadi salah satu tradisi Lebaran di Indonesia. (Sumber: Tangkap layar YouTube/Intisari Online)

Ilustrasi. Filosofi sungkeman yang menjadi salah satu tradisi Lebaran di Indonesia. (Sumber: Tangkap layar YouTube/Intisari Online)

Gestur merendah dalam sungkeman mengajarkan seseorang untuk menghilangkan egoisme dan menumbuhkan sikap hormat kepada orang yang lebih tua.

2. Wujud Rasa Syukur

Dalam konteks pernikahan, sungkeman merupakan cara seorang calon pengantin mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan para pinisepuh atas bimbingan dan perlindungan yang telah diberikan sejak lahir hingga menjelang pernikahan.

3. Sarana Permintaan Maaf

Sungkeman menjadi momentum untuk mengakui kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak, dengan harapan hubungan yang sempat renggang dapat kembali harmonis.

4. Pengingat akan Bakti kepada Orang Tua

Melalui tradisi ini, generasi muda diingatkan kembali tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, terutama kepada ayah dan ibu.

Sejarah dan Akulturasi Budaya

Sejauh ini, belum ditemukan catatan pasti mengenai asal-usul tradisi sungkeman.

Namun, budayawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Umar Kayam, menyebut sungkeman sebagai wujud akulturasi antara Islam dan budaya Jawa.

Akulturasi ini juga terlihat pada tradisi mudik dan perayaan Idulfitri. Para ulama di Jawa dahulu berupaya memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya setempat agar masyarakat dapat menjaga kerukunan dan kesejahteraan sosial.

Sungkeman, yang awalnya merupakan bentuk penghormatan anak-anak Jawa kepada orang yang lebih tua, kemudian berkembang menjadi ritual permohonan maaf dan sarana introspeksi diri.

Seiring penyebaran Islam di Nusantara, tradisi ini semakin mengakar dan diterima secara luas oleh masyarakat. Umar Kayam menegaskan bahwa sungkeman bukanlah simbol rendahnya derajat seseorang, melainkan perwujudan kemuliaan akhlak dalam kehidupan sosial.

Hal ini juga didukung oleh Profesor Sutrisno Wibawa, yang berpendapat bahwa sungkeman merupakan simbol keseimbangan dan keselarasan dalam kehidupan sehari-hari.

Sungkeman dalam Konteks Wali Songo

Menurut almarhum Hermanu Jobagyo, guru besar sejarah politik Islam Universitas Sebelas Maret (UNS), tradisi sungkeman memiliki makna yang sangat penting bagi umat Islam di Jawa.

Ia menambahkan bahwa salah satu anggota Wali Songo pernah mewajibkan umat Islam untuk pulang ke rumah orang tua dan melakukan sungkem pada saat Idulfitri.


Berita Terkait


News Update