Tantangan Puasa Ramadhan di Berbagai Negara, Adanya Perbedaan Waktu hingga Jadi Warga Minoritas

Senin 03 Mar 2025, 09:44 WIB
Ilustrasi. Deretan tantangan puasa Ramadhan di berbagai negara yang kerap ditemy=ui umat Muslim di dunia. (Sumber: Freepik/rawpixel.com)

Ilustrasi. Deretan tantangan puasa Ramadhan di berbagai negara yang kerap ditemy=ui umat Muslim di dunia. (Sumber: Freepik/rawpixel.com)

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Appetite pada tahun 2019, para peneliti menemukan bahwa durasi puasa yang lebih lama dapat meningkatkan rasa lapar dan meningkatkan stres oksidatif pada tubuh, yang berisiko menyebabkan kelelahan dan penurunan daya tahan tubuh.

Hal ini dapat membuat umat Muslim di negara dengan waktu puasa yang lebih panjang mengalami kelelahan lebih cepat, sehingga mempengaruhi kualitas ibadah dan aktivitas sehari-hari mereka.

2. Iklim dan Suhu Ekstrem

Iklim dan suhu ekstrem juga merupakan faktor yang mempengaruhi tantangan puasa Ramadhan.

Di negara-negara dengan suhu tinggi seperti di Timur Tengah (misalnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait), puasa menjadi tantangan besar karena panasnya cuaca yang ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi lebih cepat.

Pada bulan Ramadhan, umat Muslim harus menahan haus sepanjang hari, dan suhu yang sangat panas dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (2019), suhu ekstrem dapat mempengaruhi kesehatan fisik individu, terutama dalam hal dehidrasi.

Penurunan cairan tubuh dapat menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal, sistem pencernaan, dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Oleh karena itu, umat Muslim di negara dengan suhu panas harus lebih berhati-hati dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh selama bulan Ramadhan.

3. Tantangan Sosial dan Ekonomi

Tantangan puasa Ramadhan juga tidak hanya berasal dari faktor fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Di beberapa negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, seperti di beberapa negara Afrika atau Asia Selatan, umat Muslim mungkin mengalami kesulitan dalam mendapatkan makanan yang cukup untuk berbuka dan sahur.

Dalam situasi ini, mereka tidak hanya berpuasa dari makanan dan minuman, tetapi juga harus menghadapi kekurangan pangan yang menjadi tantangan tersendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh World Food Programme pada tahun 2020 menunjukkan bahwa sekitar 820 juta orang di seluruh dunia hidup dalam kondisi kelaparan kronis, yang membuat mereka lebih rentan terhadap malnutrisi selama bulan Ramadhan.


Berita Terkait


News Update