POSKOTA.CO.ID – Hipotermia adalah kondisi medis berbahaya yang terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal, yakni 37°C (98,6°F).
Sementara itu, dalam bukunya berjudul Hypothermia (2025), Hieu Duong dan Gaurav Patel mendefinisikan hipotermia sebagai kondisi tubuh yang berada di bawah temperatur 35 derajat celcius.
Hal ini terjadi karena tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk memproduksi panas.
"Hipotermia memengaruhi semua sistem organ," tulis Hieu Duong dan Gaurav Patel. Akibatnya, organ-organ vital bisa mengalami kegagalan fungsi, yang dalam kasus ekstrem dapat menyebabkan kematian.
Baca Juga: Sal Priadi Khawatir dengan Kondisi Fiersa Besari atas Insiden Puncak Cartensz
Penyebab dan Faktor Risiko
Banyak orang mengira hipotermia hanya dialami oleh korban kapal tenggelam atau petualang di pegunungan bersalju.
"Kondisi ini umum terjadi di daerah geografis yang dingin dan selama bulan-bulan yang lebih dingin, meskipun juga dapat terjadi di lokasi dengan iklim yang lebih sejuk," lanjut Hieu Duong dan Gaurav Patel.
Faktanya, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, terutama di daerah dengan suhu rendah atau dalam situasi tertentu seperti:
- Paparan udara dingin yang lama tanpa pakaian yang cukup hangat.
- Pakaian basah yang mempercepat kehilangan panas tubuh.
- Angin kencang yang memperparah efek dingin pada kulit.
- Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, lebih mudah mengalami hipotermia.
Baca Juga: Fiersa Besari Minta Netizen untuk Tidak Berkomentar Nyinyir soal Insiden Puncak Cartensz
Bagaimana Tubuh Bereaksi terhadap Hipotermia?
Ketika suhu tubuh mulai menurun, sistem tubuh akan memberikan respons untuk mempertahankan panas. Pelepasan hormon oleh kelenjar tiroid dan adrenal untuk meningkatkan metabolisme, detak jantung, dan tekanan darah.
"Menggigil juga meningkatkan produksi panas, meningkatkan metabolisme 2 hingga 5 kali lipat dari BMR dasar," kata Hieu Duong dan Gaurav Patel.
Jika tidak segera dihangatkan, suhu tubuh akan terus turun, menyebabkan otak mulai kehilangan fungsinya.
Efeknya termasuk kebingungan, disorientasi, bahkan perilaku aneh seperti ingin melepas pakaian karena sensasi panas palsu. Dalam tahap ini, risiko kerusakan otak permanen dan kematian meningkat drastis.
Baca Juga: Tragedi di Puncak Carstensz: Fiersa Besari Ungkap Kondisi dan Sampaikan Ucapan Duka Cita
Seberapa Lama Seseorang Bisa Bertahan dalam Hipotermia?
Tidak ada jawaban pasti, karena setiap individu dan situasi berbeda. Namun, ada satu kasus menarik.
Anna Bagenholm, seorang radiolog asal Swedia, memegang rekor bertahan hidup dengan suhu tubuh terendah yang pernah tercatat.
Ia selamat setelah terjebak di air dingin selama 80 menit, dengan suhu tubuh turun hingga 13,7°C (56,7°F).
Agar terhindar dari bahaya hipotermia, berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
- Gunakan pakaian hangat yang sesuai dengan cuaca, termasuk sarung tangan, topi, dan kaus kaki tebal.
- Hindari pakaian basah dan segera ganti dengan pakaian kering jika terkena hujan atau air.
- Jangan terlalu lama berada di luar ruangan saat suhu sangat rendah.
- Beri tahu orang lain tentang rencana perjalanan Anda, terutama jika bepergian ke daerah dingin.
- Jaga tubuh tetap aktif agar menghasilkan panas alami.
Baca Juga: Kondisi Terkini Fiersa Besari Pasca Pendakian Maut Puncak Carstensz
Jika Anda atau orang di sekitar mengalami hipotermia, segera lakukan langkah pertolongan pertama berikut:
- Bawa ke tempat hangat dan jauhkan dari angin.
- Ganti pakaian basah dengan yang kering dan hangat.
- Gunakan selimut tebal atau sumber panas seperti botol air hangat.
- Beri minuman hangat (tanpa kafein atau alkohol) untuk membantu meningkatkan suhu tubuh.
- Dapatkan bantuan medis segera jika kondisi memburuk.
