Menebar Benih Tekad Disirami Kerja Keras, Petani Difabel di Lore Tengah Sukses Panen Kesejahteraan

Kamis 06 Jun 2024, 10:11 WIB
Hasan (41) petani penyandang disabilitas daksa asal Rompo, Lore Tengah, Kab. Poso (Foto: Poskota/ Rivera Jesica Souisa)

Hasan (41) petani penyandang disabilitas daksa asal Rompo, Lore Tengah, Kab. Poso (Foto: Poskota/ Rivera Jesica Souisa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pria asal Desa Rompo, Lore Tengah, Kab. Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) itu duduk manis di dalam kios sederhana berbalut papan kayu. Namanya Hasan Polohe (41), salah satu petani penyandang disabilitas daksa di Poso. 

Tidak hanya bertani, sejumlah kegiatan lainnya pun ia lakukan demi menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk menghidupkan keluarga kecilnya. Ayah dua anak yang akrab disapa Hasan ini menjual sederet kebutuhan rumah tangga hingga benih atau bibit unggul hibrida di dalam kiosnya yang dibangun pada November 2023 lalu. 

Kadang, ia juga mengelilingi Rompo untuk berjualan ikan segar titipan salah seorang kerabatnya. Hasan memang terbatas, kaki kanannya tidak ada sejak ia dilahirkan. Namun, keterbatasan fisik tak membuat api semangat Hasan padam dalam menjemput rezeki untuk keluarganya. 

Ia berjalan mengandalkan tumpuan kaki kiri dibantu tongkat menggantikan peran kaki kanannya. Hasan bercerita terbiasa hilir mudik berjualan ikan, hingga melakukan aktivitas pertanian seperti mencangkul, menyemai dan memanen hasil pertanian di lahan miliknya. 

“Habis jual ikan, balik lagi ke kios jemput mamanya pergi ambil adik kecil itu (anak bungsunya). Baru setelah itu lanjut ke kebun jagung lagi di atas,” ujar Hasan sambil menunjuk salah satu bukit yang berada di sekitarnya. 

Sosok Pekerja Keras

Sebelum membangun kios kelontong, ia sempat berptofesi sebagai pedagang siomay hingga penjual sayur keliling dalam kurun waktu dua tahun dengan tujuan ingin membuka kios impiannya di lokasi yang strategis dan ramai pembeli. 

Hasan menghempaskan rasa pesimis di dalam dirinya jauh-jauh untuk menggapai impiannya tersebut hingga akhirnya terwujud. Kios yang dibangun berbahan cucuran keringat dan jerih payahnya tersebut kini ramai pelanggan. 

Hal tersebut tentu mengundang orang di sekitar tidak segan melemparkan pujian kepada Hasan yang secara gamblang mempelihatkan kerja kerasnya di tengah keterbatasan fisik. 

Bahkan, saat Poskota menemuinya, ia dengan piawai mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu tamu yang juga turut hadir di kios tersebut. 

Dengan bantuan sebuah tongkat adaptif, ia menghampiri sepeda motor miliknya dan dengan gesit tancap gas untuk menjemput sang istri di kediamannya yang tidak jauh dari kios. 

Selepas dari sana, Hasan kembali lagi bersama sang istri bernama Diana Aprilia yang juga merupakan penyandan disabilitas daksa sambil menggendong anak bungsunya yang berusia sekitar 4 bulan. 

Ikut Pendampingan Petani Jagung

Hasan bercerita tentang alasan ia meningkatkan intensitasnya sebagai petani jagung di daerahnya tersebut, meski terkadang musim hujan mengganggu pikirannya lantaran khawatir terjadi gagal panen. 

Semuanya, kata Hasan, diawali dengan kedatangan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan salah satu perusahaan benih PT Sygenta pada 2022 lalu, yang menawarkan pendampingan sebagai petani jagung baik dan benih unggul berlabel. 

“Awalnya ketemu dengan WVI dan PT Sygenta ini mereka yang datang. Datang di sini bukan berarti langsung kita terima, lama dulu itu kita terima mungkin ada satu minggu,” ujar dia. 

Penolakan Hasan kala itu didasari dengan pengalamannya yang acap kali gagal menggunakan benih unggul berlabel untuk menanam jagung di lahan seluas satu hektare miliknya dengan berbagai metode penanaman. 

Namun, hatinya perlahan mencair dan mulai terbuai dengan niat baik dari WVI dan PT Sygenta tersebut. Ia mendapatkan pendampingan dari kedua pihak ini untuk menanam jagung secara baik dan benar menggunakan bibit hibrida yang diberikan. 

Ia mengatakan, banyak perubahan yang dialaminya selaku petani jagung yang telah mendapatkan dampingan tersebut.

Jika sebelumnya hanya menghamburkan benih saja, kini ia mampu menanam dengan memperhatikan jarak penanaman benih hingga proses panen yang baik. 

Lambat laun, hasil produksi jagung Hasan mulai meledak dan langsung berbuah manis. Ia meraih lebih dari 10 ton jagung dalam sekali panen melalui 20 kilogram bibit hibrida yang ditanam.

Hasan menuturkan bahwa kesuksesan panen jagungnya tersebut di antaranya berkat dorongan dari WVI dan perusahaan penyedia bibit unggul itu. 

Istri Hasan mengatakan, pendapatan keluarganya kini paling banyak bisa mencapai Rp3,5 juta per hari dari hasil jualan di kios beserta hasil panen jagung dari kebunnya.

“Kalau lancar, bisa dapat Rp3,5 juta per hari dan rendahnya sekitar Rp2 juta,” kata Diana. 

Selaras dengan misi WVI melalui proyek inklusi INCLUSION, PT Sygenta pun kini memberi kesempatan kepada Hasan menjual berbagai produknya tersebut di kios sederhana itu. 

“Kami cukup tertarik dengan idenya (WVI) untuk memberdayakan kelompok difabel. Karena kita juga punya campaign HATI (Hasil Tinggi)," jelas salah satu pendamping dari PT Sygenta, Muh. Burdiono. 

"Tapi secara substansi, kita sebagai manusia harus bekerja setulus dan sepenuh hati kepada siapa pun yangada di sekitar kita,” lanjutnya. 

Hasan selaku anggota dari komunitas difabel di Rompo, kata Burdiono, telah sukses menjual 3 ton benih yang disalurkan sejak tahun 2022 hingga saat ini. 

Sebagai informasi, proyek INCLUSION yang berakhir pada 2027 mendatang itu bertujuan memberdayakan petani-petani difabel dan kelompok rentan lainnya di Sulteng. 


Berita Terkait


News Update