Hasan bercerita tentang alasan ia meningkatkan intensitasnya sebagai petani jagung di daerahnya tersebut, meski terkadang musim hujan mengganggu pikirannya lantaran khawatir terjadi gagal panen.
Semuanya, kata Hasan, diawali dengan kedatangan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan salah satu perusahaan benih PT Sygenta pada 2022 lalu, yang menawarkan pendampingan sebagai petani jagung baik dan benih unggul berlabel.
“Awalnya ketemu dengan WVI dan PT Sygenta ini mereka yang datang. Datang di sini bukan berarti langsung kita terima, lama dulu itu kita terima mungkin ada satu minggu,” ujar dia.
Penolakan Hasan kala itu didasari dengan pengalamannya yang acap kali gagal menggunakan benih unggul berlabel untuk menanam jagung di lahan seluas satu hektare miliknya dengan berbagai metode penanaman.
Namun, hatinya perlahan mencair dan mulai terbuai dengan niat baik dari WVI dan PT Sygenta tersebut. Ia mendapatkan pendampingan dari kedua pihak ini untuk menanam jagung secara baik dan benar menggunakan bibit hibrida yang diberikan.
Ia mengatakan, banyak perubahan yang dialaminya selaku petani jagung yang telah mendapatkan dampingan tersebut.
Jika sebelumnya hanya menghamburkan benih saja, kini ia mampu menanam dengan memperhatikan jarak penanaman benih hingga proses panen yang baik.
Lambat laun, hasil produksi jagung Hasan mulai meledak dan langsung berbuah manis. Ia meraih lebih dari 10 ton jagung dalam sekali panen melalui 20 kilogram bibit hibrida yang ditanam.
Hasan menuturkan bahwa kesuksesan panen jagungnya tersebut di antaranya berkat dorongan dari WVI dan perusahaan penyedia bibit unggul itu.
Istri Hasan mengatakan, pendapatan keluarganya kini paling banyak bisa mencapai Rp3,5 juta per hari dari hasil jualan di kios beserta hasil panen jagung dari kebunnya.
“Kalau lancar, bisa dapat Rp3,5 juta per hari dan rendahnya sekitar Rp2 juta,” kata Diana.
Selaras dengan misi WVI melalui proyek inklusi INCLUSION, PT Sygenta pun kini memberi kesempatan kepada Hasan menjual berbagai produknya tersebut di kios sederhana itu.
