Forum Peduli Indonesia Damai Siap Kawal Pemerintahan Baru Prabowo

Minggu 05 Mei 2024, 14:01 WIB
Pertemuan Forum Peduli Indonesia Damai (FPID) yang siap mengawal pemerintahan baru.

Pertemuan Forum Peduli Indonesia Damai (FPID) yang siap mengawal pemerintahan baru.

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tokoh lintas agama di Indonesia yang tergabung dalam Forum Peduli Indonesia Damai (FPID) melakukan pertemuan ke tujuh di Gereja Katedral, Jakarta Pusat pada Sabtu, 4 Mei 2024. Dalam pertemuan yang dibalut acara Halal Bi Halal itu, para tokoh lintas agama siap mengawal pemerintahan baru hasil Pemilu 2024.

Para tokoh agama di Indonesia yang hadir dalam pertemuan itu, antara lain Waketum MUI, KH Marsudi Syuhud, Romo Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, PGI Gumar Gultom,  Ketua Umum Dewan Rohanian Majelis Tinggi Konghucu Indonesia (Matakin) XS Budi Santoso Tanuwibawa 2018-2022, Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), Engkus Ruswana, Ketum PHDI, Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Permabudhi, Piandi, Pimpinan Spiritual Nusantara, Romo Sri Eko Galgendu, dan Sekretariat FPID Azisoko Harmoko.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud menyampaikan, para pemimpin agama Indonesia ini berkumpul untuk mencairkan dan menguatkan hubungan di antara sesama.

Dalam pertemuan itu, Kiai Marsudi mengatakan, para pemimpin agama memiliki satu kesamaan visi untuk terus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jika ada kurang-kurangnya kita perbaiki, jika masih ada yang belum semua sepakat itu adalah kewajaran yang harus kita jaga," kata Kiai Marsudi pada Sabtu, 4 Mei 2024.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Uchwah itu juga menghimbau pihak-pihak yang memiliki pendapat berbeda dapat diterima. 

Kiai Marsudi menjelaskan, hal itu karena pendapat yang berbeda merupakan bagian dari kritik. Sementara kritik ialah sarana untuk melakukan perbaikan-perbaikan. 

Namun ia mengingatkan, kritik itu bukan dengan cara mencaci maki. Menurut Kiai Marsudi, khsususnya dalam dunia politik, ketika terjadi ketidakseimbangan, maka perlu ada yang mengkritik agar bisa menjadi keseimbangan.  

"Siapa saja bisa untuk menyampaikan kritiknya, terhadap pemerintah, siapa saja, termasuk kepada kita," tegasnya. 

Lebih lanjut, Kiai Marsudi menyampaikan, para pemimpin agama di Indonesia sepakat ajang seperti ini akan menjadi budaya. Sebab, katanya, ketika melakukan pertemuan seperti ini, suasana akan cair dengan sendirinya. 

Hal inilah yang diharapkan terjadi kepada para pimpinan  partai dan pimpinan politik di Indonesia agar bisa saling kumpul agar situasi di antara mereka bisa cair. 


Berita Terkait


News Update