Falsafah itu sudah menjadi semboyan hidup kita, tetapi maknanya seolah telah berubah. Polarisasi sepertinya kian menjadi. Adakah yang salah? Jawabnya tidak ada, yang keliru memaknai dan mengaplikasikannya.
Saat sekarang diperlukan sosok pemersatu. Tentu bukan sama persis seperti Sultan Agung, Hayam Wuruk dan Gajah Mada dengan sumpah amukti Palapa. Bukan pula hadirnya Muh Yamin, dan sang proklamator Soekarno – Hatta atau tokoh pluralis Gus Dur.
Tetapi tokoh era kini, yang dengan karakternya mampu memenuhi harapan semua lapisan masyarakat. Mampu merangkul semua golongan, menjadikan keberagaman sebagai alat memperkokoh persatuan dan kesatuan. Bersikap tenang, sederhana dan rendah hati seperti falsafah kepemimpinan sang Maha Patih Gajah Mada, pemersatu bangsa.
Tan sutrisna- tidak pilih kasih, sumantri dengan wujud tegas, jujur, bersih, berwibawa. Sih samasta bhumana – dicintai dan mencintai segenap lapisan masyarakat. Nagara gineng pratijna – mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan dan keluarga. Dibyacitta- lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain. Ambeg paramartha – pandai menentukan prioritas yang penting dan waspada purwartha – selalu waspada dan introspeksi diri melakukan perubahan.
Jika kita runut, inilah ajaran nilai – nilai luhur Pancasila. Sering kita saksikan semboyan tak sesuai kenyataan. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetapi tetap satu, yang terjadi bersatu dengan selalu mempersoalkan perbedaan. Sering dikatakan, bersama, tetapi tidak dalam kebersamaan. Satunya ngalor, lainnya ngidul, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini. Padahal esensi Bhinneka Tunggal Ika adalah menjunjung kepentingan bersama. Menjadi aneh, isu SARA masih saja diperdebatkan, dijadikan alat pemecah belah demi kepentingan politik dan bisnisnya.
Makin diperlukan sosok yang mampu melindungi dan mengayomi semua kepentingan. Mampu merangkul semua golongan, tanpa terkecuali.
Semoga sosok pemersatu bangsa segera hadir di tengah – tengah kita. (Azisoko)
