Penulis: Tatang Seherman, Wartawan Poskota
SUASANA gedung G Balaikota DKI, suatu pagi pekan lalu cukup ramai oleh para jurnalis dari berbagai media. Mereka datang mengantre untuk menunggu giliran divaksin.
Dari sebagian raut wajah para jurnalis, terkesan ada aroma ketegangan. Seolah akan menghadapi sumber ketakutan. Ada yang duduk menunggu giliran sambil mulutnya komat kamit, ada yang berkeringat padahal ruangan cukup dingin karena AC.
Ketegangan, ketakutan menghadapi vaksin terjadi lantaran banyak asupan informasi yang tidak jelas mengenai vaksin. Asupan informasi seperti itu biasanya berasal dari media sosial, yang kebenaranya diragukan.
Faktanya, para jurnalis yang sudah divaksin merasakan banget manfaatnya. Rasa khawatir, rasa takut, berubah menjadi rasa lega karena perasaan was-was terpapar virus covid-19 menjadi sirna. Secara psikologis, orang yang sudah divaksin rasa percaya diri menjadi tumbuh.
Seperti diketahui saat awal kedatangan jutaan vaksin COVID-19 di Indonesia, banyak yang mempertanyakan mengapa vaksin sudah dipesan sedemikian banyak, sementara uji klinis atas vaksin tersebut belum juga tuntas.
Keputusan pemerintah tersebut terkesan dianggap terlampau tergesa-gesa dan penuh risiko. Belum lagi perdebatan soal halal haram dan asal negara produsen. Lalu ada yang berkomentar dari sisi sains yang berkebalikan.
Fakta di lapangan, Indonesia bahkan tergolong terlambat dalam mengambil langkah dan keputusan terkait dengan vaksin. Lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali.
Vaksin merupakan suatu hal yang tak terelakkan sebagai upaya menghentikan laju pandemi COVID-19 yang makin cepat. Memang tidak bisa menjamin 100 persen corona akan hilang, tetapi vaksin diharapkan menjadi benteng pertahanan yang diharapkan akan mendorong kurva kasus COVID-19 ke arah balik.
Apa jadinya jika tanpa vaksin? Kemungkinan korban akan terus berjatuhan serasa tanpa perlawanan. Ekonomi bisa jadi ambruk sehingga bangsa ini dengan mudah dikuasai asing.
Untuk itu, dengan jumlah populasi terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dituntut untuk segera bergerak melindungi rakyatnya dari ancaman virus membahayakan ini.
Berdasarkan data People’s Vaccine Alliance menunjukkan bahwa negara-negara kaya di dunia yang mewakili 14 persen populasi di bumi ini telah memborong 53 persen seluruh vaksin COVID-19.
Aliansi itu menyebutkan hampir 70 negara miskin hanya mampu memvaksinasi satu dari 10 warganya pada tahun 2021.
Indonesia termasuk yang beruntung karena sejak beberapa bulan terakhir vaksinasi gencar dilakukan. Rakyat, mulai dari lansia sampai remaja secara bergilir mendapat pelayanan vaksin.
Dokter Reisa Broto Asmoro, Juru Bicara Satgas COVID-19, menyatakan jika masyarakat melakukan vaksinasi, tidak saja memberikan perlindungan bagi orang yang diimunisasi, tetapi juga bagi lingkungannya, terutama karena ini membantu mengurangi penyebaran penyakit.
