"Lebih sering sih yang saya dapati ini mereka yang ingin mendapatkan jabatan," ucapnya.
Dedi mengakui, para peziarah di makan Kramat ini memang sering menemukan benda pusaka, seperti keris, surat dan batu. Benda-benda itu biasanya mendatangi bagi peziarah dari kalangan ulama tertentu saja.
"Kaya belum lama ini, ada seorang ulama dari Sukabumi yang berziarah ke sini, ia kemudian mendapatkan sepucuk surat dan batu kecil dari pinggir makam ulama yang ia ziarahi," ceritanya.
Surat itu, tambah Dedi, berbahasa Arab yang setelah dibacakan intinya adalah ucapan terima kasih telah berkunjung ke makam ini.
"Setiap benda-benda pusaka yang ditemukan tidak dibawa pulang, tetapi dikumpulkan di sini," jelasnya.
Dedi mengakui, kawasan makan Lawang Abang ini baru tiga tahun ditata rapih seperti ini. Dahulunya tak terurus dan banyak tumbuhan liar.
Sampai saat ini, Dedi bersama teman-temannya yang lain sedang melakukan pembersihan sejumlah makan para pendahulu yang ada di sekitar kawasan Lawang Abang ini.
"Sekitar Lawang Abang ini memang sawah. Tapi diantara sawah-sawah itu banyak makan para ulama serta kasepuhan. Bahkan di ujung barat Lawang Abang, terdapat reruntuhan masjid. Itu juga di tengah sawah," tegasnya. (kontributor banten/luthfillah)
