“HALO apa kabar Bapak Ibu? Sehat wal afiat kan? Alhamdulillah. Saat ini sehat adalah satu karunia dan rezeki yang patut disyukuri,” ujar sahabat Bang Jalil dari jarak jauh.
“Bayangkan saja, Pak Ibu. Hampir setiap saat, kita dikejutkan oleh berita yang bikin sedih. Lihat saja di HP, yang muncul berita duka, dari warga biasa sampai tokoh politik dan agama orang-orang gede yang sakit dan meninggal dunia karena terpapar Covid-19,” katanya lagi.
Bang Jalil pun mengiyakan apa yang dikatakan sang sahabat. Dia juga saat ini masih dalam duka lara yang mendalam karena tetangga dekatnya yang biasa bertemu tiap saat jadi korban penyakit ganas tersebut. “Kayaknya dia sehat banget. Malah banyak ngobrol dan juga yang diomongin soal corona. Dia cerita kalau adikknya lagi dirawat. Dia sedih, karena mau jenguk juga kan nggak bisa bebas?”
Baca juga: Hati Tetap Senang Covid Cepat Hilang
Tapi, begitulah, ajal menjemputnya. Sementara sang adik sudah pulih seperti sedia kala. Kehidupan di zaman pandemi. Masih terus bikin was-was, karena dikepung penyakit seperti siluman. Bayangannya saja nggak terlihat. Tapi,kalau sudah masuk tubuh manusia, nggak ada ampun.
Ya, masyarakat harus tahu diri, dan bisa menjaga diri. Presiden kan bilang, masyarakat harus mampu hidup berdampingan dengan corona. Artinya, tetap menjalani kehidupan di tengah pandemi. Pemerintah dengan berbagi upaya sedang berusaha menanggulangi dengan pengobatan.
Jangan remehkan anjuran protokol kesehatan, cuci tangan dengan sabun di air mengalir, pakai masker yang baik dan benar, jaga jarak, dan hindari kerumunan.
Baca juga: Perkuat Satgas Hingga Tingkat RW
“Pokoknya di rumah saja,” kata istri Bang Jalil.
“Betul itu, Bu,” kata Bang Jalil memuji.
“Tapi, ibu udah bosen di rumah terus. Udah kangen sama Pasar Tanah Abang, mau beli seragam buat ngaji!” ujar sang istri.
Hemmm, Bang Jalil hanya bergumam. (massoes)
