Ribuan Angkutan Kota Konvensional Kian Tergusur di Bekasi

Kamis 03 Jan 2019, 17:07 WIB

BEKASI –  Ribuan angkutan kota (Angkot) konvensional kian tergusur di Kota Bekasi. Hal ini akibat persaingan dengan angkutan massal maupun online. “Sistem transportasi kota memang harus mengarah ke sistem transportasi massal yang mengutamakan kenyamanan dengan tarif murah,” kata Harun Alrasyid, Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi (DTKB), Kamis (3/1). Disebutkan, perkembangan ini disadari karena tuntutan kebutuhan dan perkembangan tehnologi. Sehingga, perlu ada solusi jika awak angkutan akan beralih pekerjaan. Harun menyebut ada sekitar 3.000 armada angkot yang beroperasi di Kota Bekasi. Data ini berdasarkan perpanjangan izin KIR dari Dinas Perhubungan. Bisa jadi jumlah ini lebih banyak lagi kalau awak angkot tidak melakukan perpanjangan kir dengan alasan kian sulit. Armen, satu awak Angkot, mengatakan desakan keberadaan angkutan umum memang kian sulit mencari penumpang. Hal ini akibat warga semakin banyak yang punya motor, atau juga jasa layanan online. "Belum lagi di lapangan yang sering macet sehingga bisa tekor kalau dipaksakan narik," katanya. Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kota Bekasi, Hotman Pane, mengatakan selama 10 tahun terakhir ini, masih ada sebanyak 3.200 armada angkot yang beroperasi di Kota Bekasi. Jumlah ini, semakin menurun seiring dengan perkembangan moda transportasi seperti transportasi online dan semakin banyak jumlah pemilik kendaraan roda dua dan roda empat. “Pasti berkurang saat ini, ada sekitar 1.500 hingga 2.000 armada yang masih beroperasi,” katanya. Harun menyebut konsekuensi para sopir angkot bisa kehilangan mata pencarian. "Harus ada upaya pemberdayaan bagi pemilik angkot dengan membentuk badan usaha yang dapat merger dengan sistem transportasi massal,” ujar Harun. Sementara, Organda mengaku belum mengetahui wacana Pemkot Bekasi yang bakal menambah rute bus Transpatriot ataupun wacana pergantian angkot ukuran mini bus menjadi ukuran bus sedang, seperti bus Transpatriot ini. Di bagian lain, Kepala Bidang Angkutan Kota, Fatihun, mengakui gusuran kepada angkutan konvensional di Kota Bekasi ini. Awal 2018 lalu, ada 3.488 unit angkutan umum dari 35 trayek yang ada di Kota Bekasi. Dari jumlah itu, tinggal 1.204 yang eksisting bisa berjalan. Jumlah yang tidak sampai separohnya. "Angkutan konvensional banyak yang mulai kolaps. Mereka tak mampu bertahan dengan persaingan, disamping juga tuntutan pemenuhan kebutuhan operasional," katanya saat itu. (chotim/tri)


Berita Terkait


News Update