JAKARTA - Presiden Joko Widodo dinilai dalam keadaan terdesak saat mengeluarkan pernyataan 'politik sonyoloyo' dan 'politik genderuwo'. Jokowi dianggap tidak nyaman menghadapi isu politik yang menyerangnya. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - Ma'ruf Amin, Moeldoko memastikan isu politik yang diarahkan ke kubunya tidak berdasar fakta alias hoaks. "Dalam konteks perjalanan politik inikan muncul berbagai isu politik yang tidak menyenangkan bagi Pak Jokowi khususnya penyebaran isu hoaks yang nggak bener, kita pastikan itu tidak benar. Sehingga beliaunya jadi gak nyaman begitu. Ketidaknyamanan itu muncul istilah yang dikritisi," ujarnya di kediaman Ma'ruf Amin di Jalan Situbondo No. 12, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/2018). Moeldoko menganggap wajar sebutan politik sontoloyo dan politik gendruwo. Dia bahkan menilai 'serangan balik' dari Jokowi itu perlu menangkal serangan dari lawan politiknya. "Tapi memang harus begitu kita nggak boleh lagi hanya bertahan doang," imbuhnya. Lebih lanjut, Kepala Staf Kepresidenan itu menilai ungkapan politik sontoloyo dan politik genderuwo terlontar secara spontan. "Itukan apa itu gaya yang apa ya yang spontan buktinya kalau bicara sontoloyo hanya orang Jawa yg ngerti, bicara genderuwo juga orang Jawa lebih banyak, orang Jawa yang ngerti. bukan bahasa yang direncanakan, itu bahasa spontan jadi jangan telalu (dipersoalkan), biasa saja," pungkasnya. (ikbal/win) https://youtu.be/FqGgZ2LJ4ck
Jokowi Gunakan Sontoloyo dan Genderuwo, Moeldoko: Itu Serangan Balik
Rabu 14 Nov 2018, 16:47 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
Berita Terkait