PENYERAPAN APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Pemprov DKI Jakarta 2018 masih memble. Sampai awal Oktober ini, besaran anggaran yang terserap baru 34 persen dari total Rp77 triliun. Rendahnya penyerapan anggaran yang belum sampai 50 persen, hingga Oktober ini membuat Sekda DKI Jakarta, Saefullah gelisah. Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang serapan anggarannya masih minim, satu persatu dipanggil. Hasilnya? Saefullah mendapatkan fakta ketidakseriusan SKPD-SKPD dalam menjalankan program yang telah tertuang di APBD 2018. Pimpinan SKPD dinilainya hanya mau bermain aman dengan bekerja ala kadarnya dan menghindari target yang tinggi. Tanpa sungkan Saefullah pun memberi rapor merah kinerja sejumlah SKPD. Salah satunya Pemkot Jakarta Selatan, karena serapan anggarannya paling buruk dibandingkan dengan lima pemerintah kota/kabupaten lain di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Saking jengkelanya Saefullah mengkritik Pemkot Jakarta Selatan banyak ngantuk dan tidur. Katanya, Januari tidur, Februari ngantuk, Maret ngantuk lagi, April tidur lagi. Sederet program Pemkot Jakarta Selatan yang disorot antara lain rehabilitasi dan renovasi bangunan pemerintahan. Banyak kegiatan yang gagal lelang seperti pembangunan kantor kecamatan, kantor kelurahan, dan lainnya. Padahal, kegiatan itu merupakan usul yang diajukan sendiri Pemkot Jakarta Selatan saat penyusunan RAPBD (Rancangan APBD) 2018 . Jebloknya penyerapan anggaran tentu saja menimbulkan dampak buruk. Mulai dari terganggunya pelayanan publik, pembangunan fisik tak menggeliat, perekonomian waga tersendat, dan dampak buruk lainnya. Gubernur Anies Baswedan sudah seharusnya segera mengurai PR (Pekerjaan Rumah) ini. Fakta rendahnya serapan anggaran bisa dijadikan pintu masuk untuk mengevaluasi kinerja pejabat tanpa pandang bulu. Hindari menerima alasan-alasan yang tidak realistis. Bila pelayanan publik tidak maksimal dan roda pembangunan di Jakarta berputar tak seperti yang diprogramkan, maka ujungnya merugikan rakyat. Anies diharapkan tidak ragu mengganti pejabat yang kinerjanya memble. Masih banyak SDM (Sumber Daya Manusia) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang mumpuni dan bisa bekerja secara maksimal. Jangan membiarkan SKPD yang kerjanya banyak ngantuk dan tidur. Bila SKPD banyak bobok tentu berpengaruh terhadap pelayanan publik dan program yang telah digariskan. Dan pada akhirnya penyerapan anggaran sampai dengan tutup tahun pun bisa saja memble. @*
SKPD ‘Tidur’ Jadi PR Anies
Kamis 04 Okt 2018, 05:20 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
JAKARTA RAYA
Muhammad Abdimaludin Orang Mana? Ini Profil Ketua BEM FH UBK yang Banyak Dicari usai Terima Dana Rp20 Juta