PEMAKAIAN listrik PLN sekarang, khususnya bagi konsumen kecil, diharuskan melalui mekanisme pra-bayar. Pembelian voucher memang dipermudah, selain di ATM juga tersedia di beberapa minimarket. Kalau dicermati pulsa yang didapat lebih kecil dibandingkan dengan ketentuan harga yang ada di PLN. Rupanya ongkos penjualan voucher melalui agen menimbulkan ongkos yang lumayan berat terutama bagi pelanggan listrik kecil. Memang jadi rakyat kecil selalu di posisi yang dirugikan. Anjuran pemerintah dan PLN untuk memanfaatkan lampu irit energi terus digencarkan. Walaupun lampu-lampu tersebut sangat menguntungkan, tetapi harganya, ya ampun. Apalagi kalau sedang sial mendadak lampunya mati. Sepanjang jalan-jalan sempit di kota ataupun pinggiran kota, kita dapati lapak-lapak sederhana dan kios kecil dengan berbagai jenis lampu hemat energi. Terutama lampu irit energi bekas yang sudah diperbaiki. Adanya peluang untuk memperbaiki lampu hemat energi ini, telah memberikan inspirasi dan mulai banyak dilakukan oleh masyarakat kita yang terampil. Menjadi satu bidang usaha baru. Salah satunya, saya temui di jalan menuju Bogor yang banyak dilalui angkot dan pemotor. Dia tidak mau disebut namanya kecual Pii. Dengan mengontrak ruang 2X2 meter, ia mengembangkan jasa servis dan jual beli lampu hemat energi bekas. Usahanya dimulai tahun 2009. Di ruang yang disewa dengan harga 250 ribu/bulan, ia melengkapi ruangannya dengan berbagai lemari kaca, peralatan seperti tester listrik, solder, timah, meja kerja dengan modal 500 ribu. “Saya mulai melakukan kerjaan ini sejak lulus SMP. Tidak mampu melanjutkan sekolah, Pak”, katanya tegas. Sekarang ini Pii, baru berumur 17 tahun. Keterampilannya didapatkan dengan belajar dari tetangga, yang melakukan pekerjaan yang sama sudah beberapa tahun. Saat ini pekerjaan memperbaiki lampu hemat energi lumayan banyak. “Pelanggan saya ada yang datang membawa lampu yang sudah mati. Jadi mereka minta diservis agar menyala lagi”. Ongkos servis lampu 8 W ialah 8 ribu rupiah. Sedangkan untuk yang 14W dan 23W, masing-masing 10 ribu dan 18 ribu rupiah. “Tetapi hanya lampu dengan merek terkenal saja yang bisa diservis, pak”, sambil menunjukkan beberapa lampu. Rupanya beberapa lampu buatan Cina tidak bisa diperbaiki lagi. Pii juga menerima lampu bekas dari para pemulung atau pedagang barang rongsokan. Biasanya jenisnya macam-macam. “Kalau sedang banyak buatan Cina ya untungya jadi kecil!”. Setelah diperbaiki lampu ia jual dengan harga antara 10 sampai 20 ribu rupiah, tergantung besar watt nya. “Pembelinya banyak pak. Biasanya warung-warung tenda dan kios kecil”, katanya sambil melayani seorang pembeli. Banyak juga pembeli yang tinggal di rumah-rumah kontrakan. Setiap bulan Pii bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar 1,7 juta atau lebih. Setelah dipotong sewa dan modal kerja, paling sedikit penghasilannya diatas 1,1 juta rupiah. Pii yang masih bujangan merasa sementara ini cukup penghasilannya. “Saya masih pikir-pikir memperluas jadi bengkel elektronik, pa”, ucapnya sambil tersenyum. Semoga saja usaha mandiri anak-anak muda seperti Pii akan terus tumbuh. ([email protected])
Irit Listrik
Selasa 18 Feb 2014, 13:35 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
OLAHRAGA
Head To Head Timnas Indonesia Vs Timor Leste: Rekor Sempurna Garuda Jadi Modal Berharga di Piala AFF 2026