DI kalangan masyarakat Jawa ada ungkapan, “Yen percaya menenga, yen ora percaya aja maido.” Artinya: kalau percaya diamlah, kalau tidak percaya jangan mencela. Ungkapan ini sering dikaitkan dengan fenomena alam beserta isinya terkait dengan perhitungan tarikh yang berlaku di tanah Jawa. Ketika banyak orang berbicara bahwa malam tahun baru 2014 yang jatuh pada Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Sapar (perhitungan Jawa) itu pertanda akan datangnya beribu malapetaka, misalnya, banyak di antara kita yang percaya namun tidak sedikit pula yang menganggap sebagai bentuk kemusrikan. Semuanya berpulang pada diri kita masing-masing. Tidak hanya pada tradisi masyarakat Jawa, di kalangan Islam—khususnya kaum Sunni—juga dikenal tradisi Arba' Mustamir pada bulan Safar. Seperti kata Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Saleh Hayat, kalangan Sunni akrab dengan Rebo Wekasan atau dalam bahasa Arabnya disebut Arba’ Mustamir . Menurut Saleh Hayat, warga Nahdliyin di Indonesia biasanya menggunakan hari Arba’ Mustamir itu untuk memperbanyak salawat, membaca doa, demi keselamatan alam dan seisinya. Meski begitu, kata Saleh Hayat, itu bukan berarti pada hari Rebo Wekasan terjadi malapetaka. “Setiap orang yang tertimpa musibah bukan lantaran hari apa atau bulan apa, melainkan sudah dikehendaki oleh-Nya. Tidak peduli hari Rebo Wekasan, jika seseorang waktunya celaka ya celaka," kata Saleh Hayat sebagaimana dikutip berbagai media, beberapa hari lalu. Senada dengan Saleh Hayat, Sekretaris MUI Jawa Timur M Yunus mengatakan, Allah s.w.t. tidak memilih hari khusus untuk menurunkan malapetaka di bumi. "Setahu saya tidak ada ayat atau hadis yang mengupas soal Rebo Weakasan itu,” katanya. Jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat kuno mengatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Anggapan ini masih bersisa dan dipercaya oleh sejumlah kalangan hingga kini. Padahal, ajaran Islam menyebutkan bahwa tidak ada wabah atau melapetaka tanpa kehendak-Nya, sebagaimana Abu Hurairah berkata mengenai sabda Rasulullah: "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (H.R. Imam al-Bukhari dan Muslim). Begitulah, terlepas percaya atau tidak percaya, satu hal yang wajib kita lakukan adalah selalu ingat pada-Nya . Pergantian tahun adalah momentum bagi kita untuk ber-muhasabah atau berintrospeksi diri tentang apa-apa yang pernah kita lakukan, sehingga kita dapat memperbaikinya pada tahun berikutnya. *
Rebo Wekasan
Kamis 02 Jan 2014, 09:59 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
Berita Terkait
News Update
JAKARTA RAYA
Tekan Pengangguran di Tangerang, Program Poliran Salurkan Tenaga Kerja Terlatih ke Industri
HIBURAN
Klarifikasi Willie Salim usai Viral Hadiri Aksi 29 Oktober 2026 di Bundaran HI, Ngaku Tak Dibayar
JAKARTA RAYA
Pramono Anung Siapkan Pasar Baru jadi Pusat Kuliner 24 Jam Ala Myeongdong Korea Selatan
JAKARTA RAYA
Pola Asuh hingga Ekonomi Masih Bayangi Stunting, Dinkes Tangerang Pastikan Angka Tetap di 5,1 Persen
OLAHRAGA
Link Live Streaming Persebaya vs Persijap Malam Ini 30 Oktober 2026, Kick-off Pukul 19.00 WIB
JAKARTA RAYA
Atasi Penumpukan Sampah Kali Jambe, Pemkab Bekasi Alokasikan Anggaran Rp2,3 Miliar untuk Normalisasi