BARU sekali ini saya melihat gerobak dorong dengan berbagai peralatan dari besi kebutuhan sehari-hari. Seorang bapak, Carmat namanya, berasal dari Krawang, mendorong gerobak berwarba biru dengan roda bekas becak. Gerobaknya sudah tua, seperti juga pendorongnya. Pak Carmat memakai kemeja batik yang bersih, penampilannya tidak kelihatan lusuh. Menurut ceritanya, dia baru beberapa bulan bekerja menjadi penjaja pisau, arit, clurit, golok, palu, gunting rumput, garpu dan cangkul kecil. Sangat beragam macamnya. Tidak semuanya buatan pandai besi lokal, ada juga beberapa produk impor dari Cina. Kwalitasnya, ya seadanya. Harganyapun berbeda dengan barang serupa yang dijual di warung ataupun toko. Sebuah pisau kecil harganya 5 ribu rupiah. Kalau golok agak mahal, ditawarkan dengan harga 150 ribu. Golok kelihatannya buatan Cibatu-Cisaat Sukabumi. “Ini beberapa golok ada yang pesan, pak. Tapi orangnya tidak pernah ketemu lagi”, keluhnya. “Lainkali kalau ada yang pesan supaya beri uang muka”, celetuk saya. Diapun hanya tersenyum kecut. Pak Carmat, yang berumur sekitar 50 tahun, meninggalkan istrinya di desa. “Sebelumnya saya buruh tani. Tapi sekarang sedang tidak ada pekerjaan”, katanya sambil menawarkan arit kepada saya. Sekarang pak Carmat tinggal bersama ‘boss’ di rumahnya. “Dia kenalan saya di kampung”. Jadi tidak perlu membayar tempat tinggal. Boss nya juga penjaja barang yang sama, tetapi memakai sepeda motor. Pak Carmat hanya menjual barang-barang tersebut. Semuanya dimiliki oleh bossnya. Tetapi penambahan barang kalau sudah laku harus dibayar tunai. Rata-rata satu haru omsetnya 200 ribu rupiah, dan setelah melengkapi kembali gerobaknya, dapat disisihkan sekitar 50 ribu rupiah. “Saya kumpulkan untuk dibawa pulang”, tuturnya. Dua anaknya, perempuan, sudah nikah dan mengikuti suaminya. Akhirnya pak Carmat menurunkan harga arit yang saya pegang-pegang, menjadi 25 ribu. Sayapun setuju dengan harga tersebut, tanpa menawar. “Sekalian saya asah ya, pak. Ngga usah bayar”. Sayapun mengangguk. Rupanya di belakang gerobaknya terpasang mesin gerinda tangan. “Kalau gerinda ini, satu hari saya harus bayar sewa 3000 rupiah, mengasah pisau tarifnya 2000 rupiah”, tangannya sambil memutar gerinda. “Lumayan hasilnya, pak”. Matahari semakin tinggi, udara mulai terasa panas, jam 10 pagi. Pak Carmat mengatakan bahwa arit yang saya beli merupakan penglaris untuk hari ini. Sebelum pak Carmat melanjutkan mendorong gerobaknya, datang beberapa pembeli lainnya. Semoga saja target pak Carmat hari ini untuk mendapatkan penghasilan 200 ribu dapat tercapai, sebelum hujan turun. Gambaran para pelaku ekonomi rakyat, yang kebanyakan adalah pendatang, tidak ada perubahan mencolok selama tahun 2013. Bebagai upaya dan program yang sering kita baca dan lihat di berbagai media dan televisi, belum menyentuh para pelaku ekonomi rakyat kita. Merekapun tidak terdaftar. Semoga saja di tahun 2014 nanti, dengan pemimpin baru, perekonomian rakyat yang sebenarnya akan mendapat perhatian. SELAMAT TAHUN BARU 2014. ([email protected])
Carmat Namanya...
Selasa 31 Des 2013, 09:50 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.