Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433H yang lalu, di rubrik ini judul artikel adalah MUDIK dan KTP. Sekarang ini kita perlu menyoroti apa yang diprogramkan oleh Penda DKI mengenai pembenahan parkir dan trotoar di sepanjang jalan kota kita, terutama di pusat-pusat kesemrawutan seperti di Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Minggu dan Pasar Jatinegara. Masih banyak juga tempat-tempat lain yang jarang menjadi pembicaraan dan perhatian seperti Pasar Ular, Pasar Rumput dan lainnya. Yang sering disebut PKL. Memang sudah menjadi kebiasaan yang berlangsung lama sejak zaman penjajahan Inggris, pedagang diijinkan berjualan di trotoar. Peraturan yang kemudian disebut dengan peraturan ‘lima kaki’ tersebut, menjadikan pedagang kita yang berjualan di trotoar disebut PKL atau Pedagang Kaki Lima. Sebetulnya peraturan pemanfaatan trotoar di depan sebuah toko. Tetapi karena peraturan tidak pernah jelas ataupun tidak pernah dilaksanakan dengan tegas, banyak trotoar yang sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang yang disebut PKL. Tentu dengan harus membayar. Langkah-langkah yang dilakukan Jokowi-Ahok ini perlu kita sambut, termasuk oleh para pelaku ekonomi rakyat. Pemda DKI telah memberikan tempat-tempat untuk para pedagang kecil di pasar maupun tempat-tempat tertentu. Sudah saatnya kita meninggalkan istilah Pedagang Kaki Lima atau PKL. Agar pengertian bahwa trotoar yang sekarang diartikan sebagai kaki lima, bukanlah tempat berdagang permanen, melainkan untuk pejalan kaki. Demikian juga para pengelola kawasan perdagangan, selain menyediakan tempat parkir juga menyediakan tempat bagi para pedagang kecil khususnya makanan dan minuman. Trotoar sekarang ini bukan saja dipakai hanya oleh para PKL; lihat saja di mana-mana trotoar juga dipakai sebagai tempat parkir sepeda motor. Mobil polisipun parkir di trotoar sekitar kedutaan dan rumah kepala perwakilan negara sahabat. Banyak trotoar dimanfaatkan bengkel sepeda motor atau penempatan barang dagangan. Kita semua menghimbau dan mengharap program pembenahan totoar ini berlanjut, bukan sekedar menghadapi PKL. Masyarakat Jakarta pejalan kaki akan sangat bersyukur kalau bisa berjalan di trotoar yang tidak lagi duikuasai oleh PKL atau tukang parkir. Bukankah pembangunan trotoar memakai uang rakyat dan dimaksudkan untuk pejalan kaki? Kita mengetahui dan sadar bahwa pekerjaan pemimpin Jakarta ini masih banyak. Halte bis yang sudah jadi kios pedagang, tempat parkir yang sudah jadi pelataran bengkel mobil dan motor, rumah-rumah di kawasan hunian yang sudah menjadi pedagang besi atau toko. Kesemua ini sangat mengganggu kehidupan masyarakat kelas bawah yang tinggal dan hidup di rumah dan kawasan sumpek. Mereka memerlukan tempat untuk bisa tenang berjalan dan menikmati sore hari berjalan-jalan dan bertemu dengan masyarakat sekitarnya. Penempatan kursi taman disepanjang jalan Thamrin dan Sudirman perlu terus dikembangkan, bisa membuat Jakarta manusiawi dan asri. Kursi-kursi taman juga bisa menjadi tempat iklan sehingga dibiayai oleh para pengusaha. Setiap perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility atau CSR. Penempatan kursi taman jangan hanya di jalan-jalan protokol melainkan ditempatkan juga di lingkungan yang padat penduduk. Para seniman Jakarta harus membantu mempercantik Jakarta, justeru seniman asing yang telah memberi contoh melukis didinding kosong menjadi mural atau street arts, bukan hanya sekedar coret-coret atau graffiti. Semoga Jakarta akan mendapatkan berkah dari Hari Raya Idul Fitri tahun ini, dan para pemudik membawa gagasan baru demi Jakarta yang lebih manusiawi dan cantik. SELAMAT HARI TAYA IDUL FITRI 1434H, mohon maaf lahir bathin. ([email protected])
Mudik dan PKL
Jumat 04 Okt 2013, 09:53 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
OLAHRAGA
Head To Head Timnas Indonesia Vs Timor Leste: Rekor Sempurna Garuda Jadi Modal Berharga di Piala AFF 2026