JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berhasil membuktikan efektivitasnya. Melalui metode budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), warga RT 10/RW 09 setempat kini mampu mengolah hingga 30 kilogram sampah organik setiap minggunya sekaligus mengurangi beban penumpukan sampah di ibu kota.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Elva Farhi Qolbina, memberikan apresiasi tinggi terhadap program yang dipelopori oleh Ketua RT 10/RW 09, Yustian, tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini adalah bukti nyata bahwa penyelesaian masalah sampah Jakarta bisa dimulai dari tingkat lingkungan terkecil.
"Keberhasilan ini membuktikan bahwa masyarakat dapat mengatasi persoalan sampah di lingkungannya masing-masing," ujar Elva saat meninjau lokasi.
Baca Juga: DPRD DKI Tetapkan Jadwal Pembahasan Raperda APBD 2027, Fokus Isu Lapangan Kerja hingga Banjir
Integrasi Ekosistem dari Sampah Dapur jadi Pakan Ikan
Program yang dirintis sejak Juni 2026 ini didukung oleh fasilitas pemilahan dan budidaya yang memadai. Saat ini, warga mengoperasikan 20 biopon (wadah budidaya maggot), satu unit alat pencacah sampah organik, dua kandang lalat BSF, serta beberapa silinder biopori.
Uniknya, sistem pengelolaan di Karet Tengsin tidak berhenti pada penguraian sampah. Larva maggot yang dipanen langsung dimanfaatkan sebagai pakan untuk kolam ikan buatan di sekitar lokasi pemukiman.
Elva menilai keberadaan kolam ikan ini menjadi kunci sukses terintegrasinya rantai pengolahan sampah di Karet Tengsin. "Kolam ikan membantu memanfaatkan hasil budidaya maggot. Tanpa fasilitas pendukung, maggot justru bisa menumpuk dan warga kesulitan memanfaatkannya," jelasnya.
Dari lima wilayah di Jakarta yang menjalankan program serupa selama empat bulan terakhir, Karet Tengsin tercatat sebagai wilayah dengan hasil yang paling optimal.
Baca Juga: DPRD DKI Buka Suara Soal Kunci Pengurangan Sampah Jakarta Sebut Pilah dari Rumah, Jangan Cuma Diolah
Masih Membutuhkan Intervensi Fasilitas dari Pemprov DKI
Meski menunjukkan tren positif, pengembangan kapasitas pengolahan sampah di Karet Tengsin masih terbental fasilitas teknis. Warga saat ini sangat membutuhkan alat pencacah sampah berkapasitas lebih besar agar proses penyiapan pakan maggot lebih efisien.
Selain itu, diperlukan pula alat penyaring khusus untuk memisahkan pupuk organik (kasgot) dari larva.
Terkait kendala tersebut, Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Tanah Abang telah menyatakan kesiapannya untuk membantu pengadaan rak tambahan guna meningkatkan kapasitas biopon.
Namun, Elva menegaskan bahwa dukungan dari Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup harus diperluas secara konsisten, terutama dalam pemenuhan alat berat dan pendampingan teknis.
"Inisiatif warga seperti ini perlu dikawal. Penguatan pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan semakin penting di tengah persoalan kapasitas penanganan sampah Jakarta yang kian terbatas," tegas Elva.
