Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Yang namanya mafia, apa pun bentuk dan kegiatannya, di mana pun tempatnya sangat merugikan masyarakat. Sebut saja mafia hukum, mafia tanah, mafia tambang, mafia pajak, mafia migas, mafia perdagangan, tak terkecuali mafia pangan.
Tak berlebihan sekiranya anggota Wantimpres, Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta pemerintah dan aparat penegak hukum (APH) mempersempit ruang gerak mafia pangan yang terus mencari celah melalui berbagai modus manipulasi komoditas pangan. Mafia pangan yang dirugikan bukan hanya produsen, para petani, terlebih masyarakat sebagai konsumen.
“Beras dioplos misalnya, yang dirugikan para petani, pedagang hingga masyarakat,” kata bung Heri mengawali “Obrolan Warteg” bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi di sela sarapan.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Semoga Rasa Cabai Tetap Pedas, Harganya Semakin Manis
“Beras bagus-bagus. kualitas premium dioplos dengan beras yang mutunya lebih rendah demi mendapatkan keuntungan ekstra,” ujar Yudi.
“Labelnya sama, harganya sama, tetapi isinya beda. Kalau diganti yang lebih bagus, namanya amal. Tapi isinya lebih jelek, namanya apa?” kata Heri.
“Ya itu, ulah mafia pangan dengan mengoplos beras kualitas premium dengan kualitas biasa-biasa saja biar untung gede, tak peduli rakyat menderita,” urai mas Bro.
“Tapi yang mampu mengoplos beras dengan skala besar, kemasan sangat rapih, bukan sembarang orang karena punya fasilitas dan kemampuan,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Dua Tahun Pemerintahan, Publik Masih Menaruh Harapan
“Ya itulah kerja mafia yang cukup terorganisir, boleh jadi punya beking sehingga geraknya lancar dan tersembunyi dari pantauan aparat,” kata Heri.
|”Lantas bagaimana kita mempersempit ruang gerak mafia pangan. Kita rakyat yang menjadi korban,” kata Yudi.
“Betul juga. Kalau rasa beras nggak enak seperti biasanya paling komplain kepada pemilik warteg, lalu pemilik warteg kepada pedagang atau distributor.Jawabnya akan sama, dari sononya sudah begitu. Berarti yang di sono yang bikin ulah. Lah yang di sono itulah mafia,” urai mas Bro.
‘Berarti sulit ya memberantas mafia yang selalu memanfaatkan celah dan aturan. Kini dikabarkan muncul modus baru, yani beras fortifikasi. Izin beras tersebut dimanipulasi karena sebagian besar tidak memenuhi syarat,” kata Heri.
Seperti diketahui, beras fortifikasi adalah beras reguler (beras sosoh) yang sengaja ditambahkan zat gizi berupa vitamin dan mineral melalui teknologi pangan untuk meningkatkan nilai nutrisinya.
Tujuannya membantu mengatasi masalah kekurangan gizi mikro,utamanya pada anak-anak yang sedang tumbuh kembang, ibu hamil dan menyusui.
“Coba kalau dimanipulasi, beras seharusnya lebih bergizi, malah tidak bergizi. Kembali rakyat menjadi korban.Tiada daya, kecuali negara hadir melindungi rakyatnya dari praktik mafia angan,” urai mas Bro.
