BALI, POSKOTA.CO.ID – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menyerukan perubahan mendasar dalam cara manusia memperlakukan alam melalui konsep Tobat Ekologis.
Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi ancaman perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran perairan akibat sampah plastik dan limbah dari daratan.
Seruan tersebut disampaikan Jumhur saat membuka Konferensi Perairan Internasional Global Environment Facility (GEF) ke-11 atau International Waters Conference (IWC-11) di Bali, Senin (19/10/2026).
Mengusung tema “Perairan Bersama, Solusi Transformatif: Memungkinkan Perubahan Sistem”, konferensi ini menekankan pentingnya kerja sama lintas negara untuk mengatasi persoalan lingkungan yang berdampak pada sungai, pesisir, dan laut.
“Air tidak mengenal batas wilayah, begitu pula tekad semua yang hadir di acara ini,” kata Jumhur dalam pidato pembukaannya.
Baca Juga: Link Download SBM 2027 PDF Kemenkeu, Cek PMK 54 Tahun 2026 dan Lampirannya
Menurutnya, krisis lingkungan tidak cukup ditangani melalui solusi parsial dan program berbasis proyek. Dibutuhkan pendekatan sistemik yang menggabungkan kebijakan, inovasi, pendanaan berkelanjutan, serta tata kelola yang kuat lintas batas.
Jumhur juga menyampaikan apresiasi kepada Sekretariat GEF, program International Waters, UNDP, UNEP, UNESCO-IOC, dan seluruh mitra internasional yang mendukung penyelenggaraan konferensi tersebut.
Ia menegaskan, IWC-11 menjadi momentum strategis untuk memperkuat komitmen bersama menjelang Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Abu Dhabi pada Desember 2026.
“Komitmen, kemitraan, dan transformasi sistem yang kita bentuk di Bali ini akan membangun momentum serta menentukan agenda global untuk aksi air di Abu Dhabi dan seterusnya,” ujarnya.
Baca Juga: Mantapkan Transisi Strategic Holding, Telkom Petakan Arah Bisnis TelkomGroup hingga 2030
