Kebakaran Tanjung Puting Kalteng Meluas ke Area Feeding Orangutan, Cagar Biosfer UNESCO Terancam Musnah

Senin 19 Okt 2026, 16:23 WIB
Ilustrasi Wisata Taman Nasional Tanjung Puting (Sumber: visit.kotawaringinbarat.id)
Ilustrasi Wisata Taman Nasional Tanjung Puting (Sumber: visit.kotawaringinbarat.id)

KALIMANTAN, POSKOTA.CO.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah, berada pada situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Kobaran api dilaporkan menyebar cepat hingga memasuki wilayah Sungai Beguruh serta mendekati area feeding station (lokasi pemberian makan) tempat berkumpulnya orangutan liar dan eks-rehabilitasi.

Situasi darurat ini memantik keprihatinan luas di media sosial, menyusul ancaman langsung terhadap keselamatan satwa endemik serta benteng ekosistem konservasi di Taman Nasional tertua di Indonesia.

Kondisi genting di lapangan digambarkan secara langsung oleh salah seorang relawan dengan akun Threads @joanramadani_ saat menelusuri areal hutan usai melakukan upaya pemadaman, Minggu, 18 Oktober 2026.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatra Belum Padam, 1.085 Hotspot Terdeteksi

Dalam rekaman videonya, relawan tersebut memperlihatkan momen saat bertemu dengan Paldo, salah satu orangutan eks-rehabilitasi yang sedang menghabiskan buah pisang di tengah kepungan asap tipis dan kobaran api yang tidak jauh dari lokasi.

"Nih rumahnya lagi kebakar di sebelah sana, berasap juga di sebelah sana. Dia lagi makan di sini. Paldo ini salah satu orangutan eks-rehab yang ada di camp pertama, Tanjung Harapan," ujar Joan dalam rekaman video di lokasi.

Ia juga mengungkapkan betapa terancamnya keberadaan satwa-satwa liar yang menghuni kedalaman hutan TNTP akibat kepungan api dan asap pekat yang terus meluas.

"Sebenarnya kita baru balik dari madamin api, dan titik apinya itu sekitar 4 kilometer di sebelah sana. Dan sedihnya itu, tahu nggak kalau di dalam sana itu banyak orangutan liar yang hidup di sana. Kemungkinan sekarang mereka lagi struggle (berjuang) banget buat bertahan hidup karena ada kepungan api dan asap," lanjutnya.

Minimnya Bantuan Water Bombing

Upaya pemadaman di jalur darat dan perairan hingga kini terus diupayakan secara bergantian oleh gabungan relawan, masyarakat sekitar, serta para petugas di lapangan. Namun, terbatasnya peralatan dan medan lahan gambut yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman berlangsung lambat.

Para relawan menyayangkan belum maksimalnya dukungan armada udara, seperti helikopter water bombing, untuk memadamkan titik api di kawasan yang sulit diakses jalur darat sepanjang Sungai Sekonyer.

Baca Juga: Taman Nasional Way Kambas Lampung Terbakar, Bagaimana Kondisi Satwa Dilindungi?

"Api semakin besar dan semakin dekat di inti Taman Nasional Tanjung Puting. Para relawan berganti shift untuk memadamkan. Tidak ada helikopter water bombing yang membantu di wilayah Sungai Sekonyer, relawan bekerja sendiri," ungkap akun @borneotour di media sosial Threads.

Kondisi tersebut mendorong berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) konservasi lingkungan seperti Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK), FNPF, hingga HPI Kotawaringin Barat, membuka penggalangan dana darurat guna memenuhi kebutuhan logistik, suplai tabung oksigen, masker pendukung, dan peralatan pemadaman relawan di lapangan.

TNTP Rumah Orangutan Pertama

Berdasarkan data resmi Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Taman Nasional Tanjung Puting memiliki luas 412.548,24 hektar dan merupakan kawasan konservasi pertama di Indonesia yang didedikasikan untuk melindungi spesies orangutan Kalimantan Tengah dan Barat (Pongo pygmaeus wurmbii).

Kawasan yang membentang di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan ini memiliki nilai konservasi tingkat internasional yang sangat krusial:

Baca Juga: Menyatu dengan Alam Selama Liburan Lebaran di Taman Nasional Tanjung Puting

  • Cagar Biosfer UNESCO (1977): Diakui oleh badan PBB UNESCO sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati ekosistem rawa gambut dunia.
  • Situs Ramsar Lahan Basah (2013): Ditetapkan sebagai lahan basah seluas 408.286 hektar yang berfungsi sebagai reservoir air alami serta penyangga proses hidrologi dan ekologi ekosistem gambut.
  • Habitat Spesies Mandat: Selain menjadi rumah populasi orangutan liar terbesar, TNTP menjadi benteng terakhir perlindungan satwa endemik seperti Bekantan (Nasalis larvatus) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), yang menjadi spesies prioritas konservasi.

Bencana Karbon dan Kerugian Ekologis bagi Dunia

Ancaman musnahnya kawasan Taman Nasional Tanjung Puting membawa dampak destruktif yang luas:

Baca Juga: Tekan Risiko Karhutla di Kaltim, Sespimti Polri Petakan Titik Rawan Kebakaran Hutan

  • Ancaman Kepunahan Satwa Endemik: Terbakarnya area feeding dan vegetasi hutan hulu memutus rantai pakan alami serta memicu kematian satwa terlindungi.
  • Pelepasan Emisi Karbon Gambut Masif: Dengan kedalaman kubah gambut mencapai 2 meter, kebakaran lahan gambut TNTP melepaskan ribuan ton emisi karbon ke atmosfer, memperparah krisis iklim global, serta memicu krisis kualitas udara (ISPU) ekstrem.
  • Lumpuhnya Ekowisata Internasional: Sebagai pusat ekowisata berbasis kapal klotok di sepanjang Sungai Sekonyer, terbakarnya kawasan ini mematikan sektor pariwisata yang menjadi mata pencaharian utama warga lokal dan pemandu wisata.

Melihat besarnya nilai ekologis kawasan ini, masyarakat dan pegiat lingkungan mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan untuk segera mengerahkan armada pemadaman udara secara masif sebelum benteng konservasi tertua ini habis dilahap api. (m6)


Berita Terkait


News Update