Vokal Bersuara soal Karhutla, Windah Basudara Diserang dan Dituduh Dibayar Politisi

Rabu 14 Okt 2026, 18:57 WIB
Brando Franco Windah, sosok dibalik channel YouTube Windah Basudara. (tangkapan youtube)
Brando Franco Windah, sosok dibalik channel YouTube Windah Basudara. (tangkapan youtube)

POSKOTA.CO.ID - Youtuber gamer Windah Basudara menyuarakan isu bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan. Lewat sesi live streaming dan unggahan di media sosial, Windah secara terbuka mengkritik penanganan bencana tersebut serta menyerukan gerakan kepedulian publik.

Aksi vokal Windah terlihat saat ia melakukan siaran langsung memainkan berbagai game bahasa Indonesia, seperti The River Behind Us dan Uncanny Tales: The Watcher. 

Di sela-sela permainan, ia menyempatkan diri membaca keluhan ribuan penonton yang terdampak kabut asap hebat di berbagai daerah, seperti Kalimantan, Palembang, Jambi, hingga Pekanbaru.

"Prihatin buat para korban dan malu sih, malu sama negara sendiri, malu sama pemerintah lebih tepatnya," kata Windah dalam siaran langsungnya, dikutip Poskota, Rabu, 14 Oktober 2026.

Baca Juga: Siapa Developer Game Upin dan Ipin Universe? Meledak Popularitasnya Setelah Dimainkan Windah Basudara

Saat memainkan game Uncanny Tales: The Watcher yang mengisahkan tentang penjaga hutan cagar alam buatan developer asal Rusia, ia melontarkan sindiran terkait perbedaan hukum pembakaran hutan di dalam game dan di Indonesia.

"Di tempat ini kita kerja jaga hutan, kalau kita blunder gak sengaja sebabkan kebakaran itu bisa dipenjara dan harus bertanggung jawab. Lah di Indonesia sengaja bakar hutan makin kaya, bukannya dipenjara," ujarnya.

Tidak hanya berhenti di situ, Windah secara gamblang mengajak komunitas penonton setianya, untuk bersatu dan melakukan aksi protes jika tanah hutan yang terbakar nantinya dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

"Kalau tanah-tanah Kalimantan dan sekitarnya jadi sawit, kita mau nggak ikut pemberontakan? Udah kesel sih, kesel banget pasti. Awas aja kalau sampai jadi sawit. Walaupun gua tahu kalian mostly bocil, tapi setidaknya kita gerak lah," ucapnya.

Baca Juga: Keren, Windah Basudara Jadi YouTuber Pertama Indonesia yang Masuk dalam Game Efootball 2025!

Bukan hanya dalam sesi live streaming, lewat unggahan Instagram Story, Windah juga mengajak para kreator konten, influencer, dan tokoh publik untuk menggunakan pengaruh algoritma mereka. Ia mendesak para pemilik panggung media sosial agar ikut bersuara membantu warga yang menderita ISPA guna mendobrak kebisuan pemerintah.

Diserang Buzzer dan Dituduh Dibayar

Pernyataan berani serta ajakan protes dari Windah rupanya memancing reaksi keras dari sejumlah akun di media sosial. Kolom komentar dan pesan pribadinya mendadak diserbu narasi negatif serta tuduhan bahwa aksinya ditunggangi kepentingan politik tertentu.

Sejumlah akun menuding Windah menerima bayaran dari politisi hingga mafia lahan. Salah satu akun bernama @abi***p melayangkan tuduhan terbuka terkait keterlibatan figur politik.

"Yahh blunderrr, di bayar berapa bang ama om anies, bisaa bisanya streamer sebesar lu blunder gini. Gara-gara lu jadi mereka ke doktrin buat ngikutin omongan lu yang bikin pecah belah bangsa, " tulisnya di kolom komentar.

Beberapa akun lainnya juga kedapatan menggunakan templat komentar yang seragam untuk memunculkan narasi bahwa Windah sengaja memprovokasi viewers-nya.

Windah Respons Tuduhan Buzzer

Menanggapi gelombang tuduhan tersebut, Windah Basudara memberikan respons santai namun menohok. Ia mempertanyakan dari mana asal distribusi dana yang digunakan untuk menggerakkan akun-akun penyerang tersebut.

Baca Juga: Windah Basudara Streaming Game Horor Supranatural Viral 'Aku Harus Berani!'

"Bela hutan dan hewan dibilang dibayar mafia, dibayar anies. Tapi gw akui buzzer-buzzer ini lumayan research. Mereka tau gw gak buka saweria. Dan banyak bener komen template yang ngaku-ngaku penonton lama padahal mah gak nonton. Ini distribusi uangnya dari mana yah, jangan bilang ada distribusi pajak yg selama ini kita bayar," tuturnya.

Alih-alih gentar, pria berusia 34 tahun itu justru menegaskan punya pasukan sendiri yang bergerak tanpa perlu dibayar, yakni para penonton dan masyarakat yang tergerak oleh hati nurani.

"Mereka dibayar, gue juga punya buzzer yang bergerak pake hati nurani aja, enggak perlu dibayar-bayar," tegas Windah. Ia pun meminta para pengikutnya untuk terus membagikan informasi mengenai kondisi karhutla agar isu kemanusiaan ini tidak tenggelam begitu saja. (m6)


Berita Terkait


News Update