Fenomena Downgrade Lifestyle Ramai di Threads, dari Ganti Merek Beras hingga Turun Gaji

Selasa 13 Okt 2026, 19:59 WIB
Fenomena downgrade lifestyle ramai dibahas di Threads, mulai dari perubahan pilihan kebutuhan pokok hingga penyesuaian kendaraan dan pengeluaran sehari-hari. (Sumber: PxHere)
Fenomena downgrade lifestyle ramai dibahas di Threads, mulai dari perubahan pilihan kebutuhan pokok hingga penyesuaian kendaraan dan pengeluaran sehari-hari. (Sumber: PxHere)

POSKOTA.CO.ID - Fenomena downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup ramai dibicarakan di media sosial Threads. Sejumlah warganet membagikan pengalaman mereka menyesuaikan pengeluaran, mulai dari beralih ke produk yang lebih murah hingga menjual kendaraan dan mengubah kebiasaan sehari-hari.

Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bagaimana sebagian orang berusaha menyesuaikan kehidupan dengan kondisi keuangan yang mereka hadapi. Perubahan tidak hanya menyangkut kebutuhan tersier, seperti nongkrong dan olahraga, tetapi juga kebutuhan rumah tangga hingga pekerjaan.

Perbincangan ini mencuat setelah sejumlah akun Threads mengajak pengguna membagikan hal-hal yang mereka kurangi atau ubah di tengah situasi ekonomi saat ini.

Baca Juga: Hakim Jatuhkan Vonis 1,5 Tahun Penjara kepada Empat Terdakwa Korupsi KUR BRI Rumbai

Apa Itu Downgrade Lifestyle?

Downgrade lifestyle merupakan istilah untuk menggambarkan perubahan gaya hidup ke tingkat pengeluaran yang lebih rendah. Praktiknya bisa berupa mengganti barang dengan alternatif lebih murah, mengurangi aktivitas berbayar, atau menyesuaikan tempat tinggal dan kendaraan dengan kemampuan finansial.

Dalam unggahan pada akhir September 2026, akun @aliashariakbar mengajak warganet bercerita tentang perubahan tersebut.

"In this economy, apa saja yang sudah kalian downgrade?" tulisnya.

Ia kemudian menceritakan perubahan dalam kehidupannya, dari sebelumnya memiliki mobil Wuling Cortez dan rumah di kompleks perumahan menjadi tinggal di rumah mertua dan menggunakan motor Suzuki Shogun tua.

Unggahan itu diikuti cerita pengguna lain yang mengalami perubahan serupa, meski dalam bentuk berbeda.

Dari Kendaraan hingga Kebutuhan Sehari-hari

Sejumlah cerita yang muncul di Threads memperlihatkan bahwa penyesuaian gaya hidup bisa menyentuh berbagai aspek kehidupan. Berikut beberapa pengalaman yang dibagikan warganet.

1. Menjual mobil dan beralih ke kendaraan lebih murah

Akun @wulan_as17 mengaku menjual Honda HR-V miliknya dan menggantinya dengan mobil jenis low cost green car (LCGC). Pilihan tersebut menjadi salah satu bentuk penyesuaian kepemilikan kendaraan agar lebih sesuai dengan kondisi keuangan.

2. Mengganti merek beras

Penyesuaian juga dilakukan untuk kebutuhan pokok. Akun @fun_funny28 mengaku beralih dari beras seharga Rp470 ribu menjadi produk seharga Rp370 ribu untuk kemasan 20 kilogram.

Perbedaan harga tersebut menunjukkan bagaimana pemilihan merek dan produk menjadi salah satu cara mengatur pengeluaran rumah tangga.

3. Beralih dari kopi gerai ke kopi sachet

Akun @eve*** menceritakan kebiasaannya membeli kopi dari gerai seperti Tomoro, Fore, dan Starbucks. Kini, ia memilih kopi instan dalam kemasan sachet sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

4. Mengurangi aktivitas olahraga berbayar

Akun @psy*** mengaku tidak lagi rutin mengikuti pilates, yoga, dan padel. Ia juga lebih sering mencari produk atau layanan yang sedang menawarkan promosi.

Sementara itu, akun @fzz*** mengungkapkan bahwa keluarganya semakin jarang membeli buah karena merasa harganya mahal, meskipun jumlah anggota keluarga yang bekerja bertambah.

Pendapatan Turun, Pilihan Pekerjaan Berubah

Cerita downgrade lifestyle tidak berhenti pada konsumsi sehari-hari. Sejumlah warganet juga membagikan pengalaman terkait perubahan pendapatan dan pekerjaan.

Akun @gha*** menceritakan bahwa suaminya sebelumnya bekerja sebagai karyawan kontrak di salah satu BUMN dengan penghasilan lebih dari Rp30 juta per bulan. Namun, kontraknya tidak diperpanjang karena efisiensi.

Setelah hampir setahun menganggur, sang suami akhirnya memperoleh pekerjaan baru dengan gaji Rp12 juta per bulan.

Cerita lain datang dari akun @tol***. Ia mengaku sebelumnya bekerja sebagai programmer dengan gaji Rp19 juta, tetapi kini beralih menjadi pengemudi ojek online.

Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa penyesuaian finansial terkadang bukan sekadar keputusan untuk menghemat, melainkan juga berkaitan dengan perubahan kondisi pekerjaan.

Baca Juga: Pengamat Berharap Pertemuan Pramono-Kapolda Metro Tak Sekadar Seremonial

Downgrade Lifestyle sebagai Bentuk Adaptasi

Di tengah beragam cerita tersebut, sebagian warganet mengingatkan bahwa menurunkan standar gaya hidup tidak selalu berarti mengalami kegagalan. Akun @wah***, misalnya, memandang perubahan tersebut sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap keadaan.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki kondisi keuangan dan prioritas yang berbeda. Mengurangi pengeluaran, mengganti produk, atau mengubah kebiasaan bisa menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan keuangan.

Fenomena downgrade lifestyle di Threads juga menunjukkan bahwa ukuran kesejahteraan tidak selalu ditentukan oleh barang yang dimiliki atau kebiasaan konsumsi. Dalam situasi tertentu, kemampuan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan justru menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan.

Meski begitu, cerita yang beredar di media sosial merupakan pengalaman pribadi dan belum tentu mewakili kondisi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk memahami situasi ekonomi secara lebih luas, diperlukan data pendapatan, harga kebutuhan pokok, dan ketenagakerjaan dari sumber yang dapat diverifikasi.


Berita Terkait


News Update