IHSG Anjlok 1,94 Persen ke 5.975,78, Ini Sentimen yang Membayangi Pasar Saham

Senin 12 Okt 2026, 21:00 WIB
IHSG melemah 1,94% ke level 5.975,78 pada sesi I perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, di tengah tekanan jual dan ketidakpastian ekonomi global. (Sumber: IDX)
IHSG melemah 1,94% ke level 5.975,78 pada sesi I perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, di tengah tekanan jual dan ketidakpastian ekonomi global. (Sumber: IDX)

POSKOTA.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Setelah sempat bergerak menguat pada awal perdagangan, indeks berbalik arah dan turun 117,97 poin atau 1,94% ke level 5.975,78 pada penutupan sesi I.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan global. Investor juga mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS) dan China yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, arus dana asing, hingga harga komoditas.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Sejumlah faktor eksternal dinilai perlu dicermati pelaku pasar sebelum menentukan langkah investasi.

Baca Juga: Cara Daftar BLT Kesra 2026: Cek Status Pencairan dan Syarat Penerima

Mengapa IHSG Masih Berpotensi Tertekan?

Salah satu perhatian utama pasar adalah inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut berisiko memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta aliran modal asing ke pasar domestik.

Dalam risetnya pada Senin (12/10/2026), tim BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi global masih menjadi faktor penting bagi pergerakan saham Indonesia.

"Inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan berisiko memperkuat dolar AS dan menekan rupiah serta arus dana asing, sementara data China berpotensi memengaruhi prospek ekspor dan saham berbasis komoditas," tulis tim Riset BRI Danareksa Sekuritas.

Selain faktor inflasi, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian. Ketidakpastian tersebut dapat memengaruhi sentimen investor dan mendorong perubahan strategi investasi di pasar keuangan.

3 Agenda Global yang Perlu Dicermati Investor

Sepanjang pekan ini, terdapat beberapa agenda ekonomi dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG.

1. Data inflasi AS dan China

Pada Rabu, 14 Oktober 2026, investor akan mencermati rilis data inflasi dari Amerika Serikat dan China. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tekanan harga di dua perekonomian besar dunia.

Inflasi AS menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, perkembangan inflasi China turut menjadi salah satu indikator kondisi ekonominya.

2. Neraca perdagangan China

Selain inflasi, neraca perdagangan China yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober juga perlu diperhatikan. Perkembangan ekspor dan impor negara tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai permintaan global, termasuk terhadap komoditas.

Dampaknya dapat terasa pada saham-saham berbasis komoditas di Bursa Efek Indonesia, bergantung pada perkembangan data dan respons pasar.

3. Pertemuan IMF dan Bank Dunia serta pidato The Fed

Pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12–18 Oktober menjadi salah satu agenda ekonomi global pekan ini. Di sisi lain, pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14–16 Oktober akan dicermati untuk membaca arah kebijakan moneter AS.

Pernyataan para pejabat bank sentral dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap suku bunga, dolar AS, dan arus modal internasional.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan 24K Hari Ini 12 Oktober 2026 Stabil di Angka Rp2,1 Jutaan

Bagaimana Investor Menyikapi Pelemahan IHSG?

Pelemahan IHSG pada sesi I menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Namun, pergerakan satu sesi belum cukup untuk memastikan arah indeks sepanjang pekan.

Investor dapat mencermati perkembangan data ekonomi, nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta respons pasar terhadap berita geopolitik. Keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing, bukan semata-mata mengikuti pergerakan indeks harian.

Dengan sejumlah agenda penting yang berlangsung pekan ini, pasar saham Indonesia berpotensi bergerak dinamis. Perkembangan inflasi AS dan China serta sinyal kebijakan The Fed akan menjadi beberapa faktor yang layak dipantau untuk memahami arah sentimen pasar berikutnya.


Berita Terkait


News Update