BMKG: Kemarau Masih Dominan, Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah hingga 15 Oktober 2026

Minggu 11 Okt 2026, 15:33 WIB
Musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Oktober 2026. (Sumber: Pexels/Peter Kovesi)
Musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Oktober 2026. (Sumber: Pexels/Peter Kovesi)

POSKOTA.CO.ID - Musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Oktober 2026. Meski demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah daerah dalam beberapa hari ke depan.

Melansir dari BMKG, berdasarkan pemantauan kondisi iklim pada Dasarian III September 2026, sebanyak 70,59 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah. Sementara itu, 27,48 persen wilayah masuk kategori menengah dan hanya 1,93 persen yang mengalami curah hujan kategori tinggi.

Kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika iklim global, termasuk fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Namun, faktor atmosfer regional dan lokal masih memungkinkan hujan turun meskipun kondisi secara umum cenderung kering.

Baca Juga: Manjakan Nasabah Terpilih di MotoGP Mandalika 2026, BNI Sediakan Fasilitas VIP di Bukit 360

El Niño dan IOD Positif, Risiko Kekeringan Masih Perlu Diwaspadai

Pemantauan iklim pada September 2026 mencatat indeks IOD positif sebesar +0,72. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada periode Juli hingga September mencapai +2,70, yang dalam data sumber mengindikasikan kondisi El Niño sangat kuat.

Kondisi ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia. Sejumlah daerah berpotensi mengalami kekeringan meteorologis, terutama wilayah yang telah mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.

Dampak kondisi kering juga terlihat dari temuan titik panas atau hotspot. Berdasarkan pemantauan pada 7 Oktober 2026, terdapat 531 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Papua dan Maluku, 364 titik di Kalimantan, serta 340 titik di Sumatera.

Sebaran asap juga terpantau melalui citra satelit Himawari di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diantisipasi selama kondisi kering bertahan.

Mengapa Hujan Masih Bisa Terjadi Saat Kemarau?

Walaupun musim kemarau mendominasi, cuaca di Indonesia tidak selalu seragam. Aktivitas atmosfer di tingkat regional dan lokal masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.

BMKG mencatat curah hujan harian cukup signifikan pada periode 1–4 Oktober 2026, antara lain 91 milimeter per hari di Sumatera Utara, 69 milimeter di Sumatera Barat, 67 milimeter di Aceh, dan 54 milimeter di Jawa Barat.

Sejumlah fenomena atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), turut memengaruhi aktivitas konvektif di beberapa wilayah.

Selain itu, perlambatan angin dan suhu muka laut yang relatif hangat dapat mendukung ketersediaan uap air untuk pembentukan awan hujan.

Artinya, masyarakat tetap perlu memperhatikan peringatan cuaca setempat meskipun daerahnya sedang mengalami musim kemarau.

Prakiraan Hujan 9–15 Oktober 2026

Dalam prakiraan yang tercantum pada informasi BMKG, cuaca Indonesia secara umum diperkirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, sejumlah daerah berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan.

1. Periode 9–11 Oktober 2026

Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Wilayah yang masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat meliputi Sumatera Utara, Bengkulu, dan Jawa Barat.

Sementara itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Aceh, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

2. Periode 12–15 Oktober 2026

Potensi hujan sedang diprakirakan terjadi di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua.

Adapun kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Papua Pegunungan.

Potensi angin kencang juga perlu diantisipasi di Lampung, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos Tahap 4 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP

Imbauan BMKG: Hemat Air dan Waspadai Cuaca Ekstrem

Di tengah kondisi kemarau, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan mengantisipasi dampak cuaca panas. Penggunaan tabir surya serta pemenuhan kebutuhan cairan tubuh penting diperhatikan, khususnya bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan hutan, lahan gambut, dan semak belukar. Jika menemukan indikasi titik api, segera laporkan kepada pihak berwenang.

Di sisi lain, potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang tetap perlu diperhatikan karena dapat memicu genangan, longsor, serta gangguan aktivitas masyarakat.

Untuk memperoleh informasi terbaru, masyarakat dapat memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG, bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial @infobmkg.

Dengan memahami perbedaan kondisi cuaca di setiap wilayah, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan mengambil langkah antisipasi, baik terhadap kekeringan maupun hujan ekstrem yang masih mungkin terjadi selama Oktober 2026.


Berita Terkait


undefined
Nasional

Kapolri Kembali Mutasi 3 Kapolda

News Update