JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Olimpus meluncurkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) berbasis mikroalga lewat perangkat fotobioreaktor.
Inovasi ini diperkenalkan dalam Inaugurasi Olimpus Project di Kantor Pusat BRIN, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Oktober 2026. Product Olimpus FCCUS digadang-gadang solusi efektif penyerapan emisi karbon di kawasan urban maupun industrial.
Plt. Kepala OR Kebumian dan Maritim BRIN, Luki Subehi menjelaskan, riset ini awalnya berfokus pada skala laboratorium. Melalui kemitraan strategis dengan PT Alam Semesta Integra (ASA), pengujian kini dapat ditingkatkan ke skala jauh lebih besar.
"Dulu kami hanya bermain di skala laboratorium yang kecil, misalkan 3 liter. Begitu bekerja sama dengan industri, mereka langsung berani menerapkan skala 300-3.000 liter. Di situlah baru terlihat hasil kajian riset yang selama ini kami usahakan memang terbukti efektif," kata Luki kepada awak media, Kamis, 8 Oktober 2026.
Baca Juga: The Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, 66 Lokasi PoP Gunakan 21 Persen Energi Terbarukan
Sistem fotobioreaktor mikroalga ini dirancang untuk menangkap CO2 dari udara atau emisi industri dan mengubahnya menjadi O2 melalui proses fotosintesis. Selain membersihkan atmosfer, biomasa mikroalga yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Alat ini sifatnya multimanfaat. Selain menangkap CO2 dan melepaskan O2, biomassa yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan, kosmetik, hingga berbagai produk turunan lainnya. Konsepnya adalah sirkular ekonomi dan zero waste," ujar Periset BRIN, Irma Melati.
Solusi Efisiensi Lahan di Kawasan Urban
Direktur PT ASA, Eddy Setiawan menuturkan, teknologi ini hadir untuk menjawab keterbatasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan dan kawasan industri penghasil emisi tinggi.
Menurutnya, satu unit fotobioreaktor seluas 25 m2 memiliki efisiensi penyerapan karbon setara dengan 110 pohon mahoni berusia 10–15 tahun. Jika ditanami pohon mahoni secara konvensional, kapasitas penyerapan tersebut membutuhkan lahan seluas 5.000-10.000 m2.

"Teknologi ini sangat efisien untuk diterapkan di perkotaan dan industri. Berbeda dengan teknologi CCS konvensional yang lebih cocok untuk kilang minyak atau PLTU, fotobioreaktor CCUS mikroalga ini ditargetkan untuk wilayah beremisi tinggi yang tidak memiliki lahan luas untuk penanaman pohon," ucap Eddy.
Perangkat ini juga telah diintegrasikan dengan teknologi Internet of Things (IoT) berbasis Wi-Fi bekerja sama dengan Telkom. Integrasi ini memungkinkan pemantauan kualitas udara dan data penyerapan karbon secara real-time, sekaligus memberikan nilai edukasi dan daya tarik visual bagi masyarakat.
Sementara itu, Olimpus FCCUS diharapkan bisa diproduksi massal untuk masuk tahap komersil. Namun, ia belum memastikan harga per unit perangkat tersebut.
Untuk menjaga kinerja mikroalga dalam menangkap emisi, perawatan berkala akan dilakukan secara teratur. Setiap satu bulan, biomassa dipanen, lalu pembersihan menyeluruh pada unit fotobioreaktor dilakukan setiap tiga bulan guna mencegah kontaminasi.
