POSKOTA.CO.ID - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Intel Corporation (INTC) tengah menjadi sorotan pasar saham usai membukukan lonjakan pendapatan kuartal kedua 2026 hingga 25 persen secara tahunan.
Meski meraup pendapatan USD16,128 miliar, pabrikan chip yang didirikan Robert Noyce dan Gordon Moore ini justru mencatatkan rugi bersih drastis sebesar USD11,033 miliar (sekitar Rp170 triliun).
Penyebab utama ruginya laporan keuangan GAAP tersebut dipicu oleh pos beban non-kas penyesuaian nilai wajar derivatif sebesar USD12,5 miliar akibat skema perjanjian restrukturisasi bersama pemerintah AS.
Secara operasional (non-GAAP), Intel sejatinya masih mencetak laba bersih yang cukup sehat senilai USD2,2 miliar dengan laba per saham (EPS) USD0,42.
Baca Juga: Saham Bank Mandiri Turun 0,71 Persen di Tengah Polemik Pemblokiran Rekening Nasabah
Maka dari itu, keputusan berinvestasi dan beli saham Amerika seperti Saham INTC menuntut pemahaman lebih dalam daripada sekadar melihat nama besarnya.
Lini AI dan Data Center Tumbuh Merekor
Sektor pendukung utama pendapatan Intel disokong oleh Data Center and AI Group yang meraup USD6,3 miliar (tumbuh 59 persen), serta Client Computing Group sebesar USD8,9 miliar.
Namun, segmen manufaktur Intel Foundry yang diproyeksikan menjadi tulang punggung jangka panjang perusahaan masih membukukan kerugian operasional sebesar USD2,089 miliar.
Guna menjaga ketahanan likuiditas dan membiayai utang jangka panjang yang menembus USD43 miliar, manajemen Intel memutuskan untuk terus menangguhkan dividen pemegang saham.
"Penangguhan dividen dilakukan untuk memprioritaskan belanja modal manufaktur dan pengembangan riset teknologi," rilis manajemen Intel.
