JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pakar kesehatan masyarakat dan epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan temuan dislipidemia sebesar 67 persen dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jakarta tidak bisa dianggap sebagai prevalensi seluruh warga Ibu Kota.
Dicky menjelaskan, angka tersebut berasal dari 97.344 peserta CKG berusia lebih dari 40 tahun yang memiliki hipertensi dan atau diabetes melitus. Dengan karakteristik tersebut, kelompok yang diperiksa merupakan subkelompok dengan risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
"Angka 67 persen itu berasal dari 97.344 peserta ya, dengan usianya itu sudah lebih dari 40 tahun, dengan juga punya hipertensi atau diabetes melitus. Artinya, subkelompok berisiko tinggi. Jadi bukan populasi umum Jakarta," kata Dicky kepada Poskota, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Dicky, penyajian angka tersebut harus disertai konteks agar masyarakat tidak keliru memahami hasil skrining sebagai gambaran kondisi seluruh penduduk Jakarta. Terlebih, jumlah peserta yang menjadi dasar penghitungan masing-masing indikator dalam laporan CKG juga berbeda.
Baca Juga: Capai 67 Persen, Kadar Lemak Darah Tak Normal jadi Temuan Tertinggi CKG di Jakarta
Ia menyebut angka 97.344 peserta digunakan untuk temuan dislipidemia, sedangkan sejumlah indikator lain dihitung dari sekitar 2,55 juta peserta. Karena itu, angka antarindikator tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Selain itu, Dicky mengingatkan CKG merupakan program yang bersifat sukarela sehingga terdapat potensi bias seleksi. Menurutnya, orang yang datang untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan bisa saja merupakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan atau sudah memiliki keluhan maupun gejala tertentu.
"CKG atau Cek Kesehatan Gratis ini sifatnya sukarela. Jadi ada bias seleksi. Peserta itu cenderung lebih peduli kesehatan atau sudah bergejala," ujarnya.
Ia juga menilai definisi operasional dislipidemia perlu diperjelas, termasuk parameter yang digunakan seperti kolesterol total, LDL, trigliserida maupun indikator lainnya. Pemeriksaan gula darah dan apakah pengukuran dilakukan hanya satu kali juga perlu menjadi perhatian.
Baca Juga: Ruko di Kelapa Gading Terbakar Gegara Cerobong Penuh Lemak
Menurutnya, hasil skrining tidak dapat langsung disamakan dengan diagnosis penyakit. Temuan dari pemeriksaan awal perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan sebelum seseorang dinyatakan mengalami kondisi tertentu.
