Uji Coba MBG Prasmanan: Solusi Tekan Food Waste atau Beban Baru Sekolah?

Selasa 06 Okt 2026, 20:10 WIB
Sejumlah siswa melakukan skema uji coba program Makan Bergizi Gratis secara prasmanan di sekolah dengan didampingi guru dan petugas SPPG, Senin, 05 September 2026. (Sumber: Dok. Youtube/@masdarsudaryono)
Sejumlah siswa melakukan skema uji coba program Makan Bergizi Gratis secara prasmanan di sekolah dengan didampingi guru dan petugas SPPG, Senin, 05 September 2026. (Sumber: Dok. Youtube/@masdarsudaryono)

POSKOTA.CO.ID - Pemerintah terus memutar otak untuk menyempurnakan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Baru-baru ini, Badan Gizi Nasional (BGN) merilis skema uji coba (piloting project) baru berupa penyajian makanan secara prasmanan langsung di dalam kelas.

Langkah ini diambil untuk mengevaluasi efektivitas distribusi sekaligus menjaga kualitas makanan yang diterima para siswa.

Alasan BGN Uji Coba Skema Prasmanan MBG di Berbagai Daerah

Uji coba skema prasmanan ini resmi berjalan di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan keterangan Kepala BGN, Sudaryono melalui channel YouTube Sudaryono, per 5 Oktober 2026, program ini telah diuji coba pada lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), salah satunya menampilkan di SPPG Kauman 02 Jepara.

Sudaryono menjelaskan bahwa ada beberapa pertimbangan utama di balik penerapan skema prasmanan ini. 

Pertama, makanan disajikan lebih segar dan hangat karena diantar langsung dari dapur ke kelas tanpa delay waktu penyiapan yang panjang sehingga menekan risiko kerusakan makanan yang bisa memicu gangguan kesehatan.

Baca Juga: Benarkah Subsidi Energi Dipangkas Demi MBG? Ini Fakta Sebenarnya

Selain itu, skema ini dinilai efektif menekan food waste karena anak-anak yang masih lapar dapat menambah dari sisa porsi yang tersedia di kelas. Hal itu terbukti dari laporan awal uji coba yang menunjukkan tingkat kehabisan makanan cukup bagus. 

Metode ini juga mengadaptasi sistem di Jepang melalui piket siswa, di mana siswa yang bertugas melayani teman-temannya dilatih menggunakan perlengkapan higienis demi membangun sikap mandiri dan kerja sama.

Tantangan Operasional dan Komitmen Evaluasi di Lapangan

Meskipun menjanjikan dari segi kualitas porsi dan edukasi, pelaksanaan prasmanan di ruang kelas membutuhkan koordinasi tingkat tinggi. Sudaryono mengakui bahwa skema ini menuntut pelatihan (training) yang cukup, baik untuk pengelola dapur SPPG maupun pihak sekolah.

Standarisasi kebersihan dan keamanan pangan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Masa uji coba ini sengaja dirancang bukan hanya untuk melihat keberhasilan, melainkan juga untuk mendata berbagai persoalan teknis di lapangan agar dapat dibenahi sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.


Berita Terkait


News Update