Ancaman Kebakaran Akibat El Nino di Jakarta, Pramono Sebut Kawasan Padat Penduduk Rawan Terdampak

Selasa 06 Okt 2026, 14:22 WIB
Potret Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Sumber: Poskota/Syifa)
Potret Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Sumber: Poskota/Syifa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Ancaman kebakaran di wilayah DKI Jakarta meningkat seiring curah hujan masih rendah akibat fenomena cuaca El Nino. Pemprov DKI mencatat kawasan padat penduduk, seperti Tambora dan Cakung, menjadi area paling rawan terdampak bencana ini.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan dampak El Nino yang panjang menuntut penanganan serius dari semua pihak. Menurutnya, potensi api sering kali dipicu oleh hal-hal yang kurang diwaspadai di lingkungan sekitar.

"Salah satu hal yang perlu kita tangani serius adalah berkaitan dengan kebakaran, karena El Nino yang panjang ini. Kebakaran dapat dipicu hal sederhana seperti puntung rokok, korsleting listrik, hingga tumpukan sampah," ujar Pramono saat di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 6 Oktober 2026.

Guna mengantisipasi risiko yang makin besar, peran aktif warga dalam melaporkan potensi bahaya secara dini dinilai sangat vital. Koordinasi yang kuat antara petugas pemadam dan masyarakat terbukti mampu menekan angka kejadian di lapangan.

Baca Juga: Jakarta Barat Tertinggi Kasus Kebakaran, DPRD DKI Dorong Pemprov Petakan Risiko Kebakaran hingga Tingkat RW

“Berbekal komunikasi yang baik dan tindakan preventif, sebenarnya ada sekitar 34 kebakaran di Jakarta yang berhasil kita cegah,” lanjutnya.

Pelatihan Penggunaan APAR di Tingkat RW

Pramono menilai bahwa sistem penanggulangan bencana di Jakarta sebenarnya sudah terdesain dengan baik. Salah satu indikatornya adalah pendistribusian dan pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di tingkat Rukun Warga (RW) yang telah berjalan.

Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya evaluasi berkala agar fasilitas keselamatan tersebut siap pakai saat darurat. Pengecekan ulang fungsi APAR di setiap RW harus terus dilakukan secara konsisten.

Di sisi lain, Pemprov DKI juga menempuh jalur teknis melalui rekayasa cuaca. Namun, skema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini tetap memiliki keterbatasan ketergantungan pada alam.

Baca Juga: Kebakaran Pasar Serdang Diduga Sabotase, Pedagang Temukan Bensin Berbungkus Plastik di Atas Plafon 

“OMC itu kadang berhasil, kadang tidak, karena pelaksanaannya sangat bergantung pada ketersediaan awan di udara,” jelasnya.


Berita Terkait


News Update