POSKOTA.CO.ID - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI resmi menggandeng The Asia Foundation (TAF) untuk memperkuat perekonomian masyarakat rentan di kawasan hutan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Kantor Baznas RI, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Sebagai langkah awal, Baznas menyalurkan dukungan dana sebesar Rp526 juta yang berfokus pada dua proyek percontohan pengembangan komoditas lokal, antara lain:
- Pengolahan kakao fermentasi oleh Kelompok Usaha Hutan Adat (KUHA) di Kabupaten Pidie, Aceh
- Budidaya kopi oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
Baca Juga: BAZNAS Buka Suara Soal Buku 'Islam Ala Prabowo', Tegaskan Bebas Dana ZIS
Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid, menjelaskan bahwa intervensi ekonomi di kawasan perhutanan ini merupakan bagian dari 13 program prioritas BAZNAS. Jika model pemberdayaan di Pidie dan Muara Enim terbukti sukses, program ini ditargetkan berekspansi ke 10 lokasi perhutanan sosial lainnya di Indonesia.
"Misi utama kami meningkatkan kemandirian ekonomi warga sekitar hutan dan memastikan fungsi kelestarian lingkungan tetap terjaga," ujar Sodik.
Ia juga membuka peluang perluasan kerja sama dengan TAF di bidang lain, seperti pemberdayaan perempuan, pemuda, dan literasi.
Country Representative The Asia Foundation, Hana Satriyo mengatakan MoU ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya mengintegrasikan instrumen keuangan sosial Islam dengan pendekatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat guna memperkuat perekonomian warga sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Baca Juga: Perluas Ekosistem Syariah, Baznas dan Bank BSN Kolaborasi Perkuat Digitalisasi Pengelolaan ZIS
"Atas nama The Asia Foundation, saya menyampaikan terima kasih, apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Baznas atas visi progresif dalam mengintegrasikan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah dengan agenda pelestarian hutan dan pengentasan kemiskinan," kata Hana.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Apri Dwi Sumarah. Ia menegaskan pentingnya mengawal program ini agar memberikan dampak ekonomi yang konkret.
Kerja sama ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan potensi sumber daya hutan dengan kemandirian ekonomi warga secara berkelanjutan.
"Mari kita jadikan kerja sama ini sebagai jembatan yang menghubungkan potensi hutan dengan kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan dengan kemandirian, serta pengelolaan hutan dengan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.
