Lulusan Apa yang Paling Banyak Menganggur di Indonesia 2026? Ini Data BPS

Rabu 30 Sep 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi pencari kerja melihat informasi lowongan pekerjaan. Data BPS Mei 2026 menunjukkan perbedaan jumlah penganggur dan TPT berdasarkan jenjang pendidikan. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ilustrasi pencari kerja melihat informasi lowongan pekerjaan. Data BPS Mei 2026 menunjukkan perbedaan jumlah penganggur dan TPT berdasarkan jenjang pendidikan. (Sumber: Wikimedia Commons)

POSKOTA.CO.ID - Pengangguran Indonesia masih menjadi salah satu gambaran penting untuk melihat kondisi pasar kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 7,22 juta orang.

Menariknya, ketika data tersebut dibagi berdasarkan pendidikan terakhir, lulusan SMA menjadi kelompok dengan jumlah penganggur paling besar. Porsinya mencapai 28 persen dari total pengangguran nasional.

Di bawahnya ada lulusan SMK dengan porsi 22,39 persen, kemudian lulusan SD ke bawah sebesar 17,18 persen dan SMP 15,65 persen.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Jika yang digunakan bukan jumlah penganggur, melainkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), hasilnya berbeda.

BPS mencatat lulusan SMK justru memiliki TPT paling tinggi pada Mei 2026, yakni 7,68 persen.

Baca Juga: Cara Cek Desil DTSEN BPS 2025 di HP, Ketahui Status Penerima Bansos Anda

Jumlah Penganggur Turun, tetapi SMK Punya TPT Tertinggi

Secara keseluruhan, jumlah pengangguran pada Mei 2026 turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026. TPT nasional juga turun dari 4,68 persen menjadi 4,65 persen.

“Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud, dikutip Rabu (30/9/2026).

Perbedaan antara jumlah penganggur dan TPT inilah yang membuat data tersebut perlu dibaca secara hati-hati.

Jika pertanyaannya lulusan apa yang paling banyak menganggur secara jumlah, jawabannya adalah SMA. Sementara jika yang ditanyakan jenjang pendidikan dengan tingkat pengangguran tertinggi, jawabannya adalah SMK.

Berikut gambaran TPT berdasarkan pendidikan pada Mei 2026:

  • SMK: 7,68 persen
  • SMA: 6,17 persen
  • D4, S1, S2, S3: 6,09 persen
  • D1, D2, D3: 4,75 persen
  • SMP: 4,16 persen
  • SD ke bawah: 2,31 persen

Artinya, dari setiap 100 orang dalam angkatan kerja lulusan SMK, sekitar delapan orang masih belum bekerja.

Mengapa Pengangguran Lulusan SMK Masih Tinggi?

Tingginya TPT lulusan SMK cukup menarik karena pendidikan vokasi pada dasarnya diarahkan agar lulusannya lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai persoalannya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Ada pula persoalan kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

Perubahan teknologi dan kebutuhan perusahaan yang terus berkembang membuat keterampilan lulusan juga perlu menyesuaikan. Di sisi lain, pasar kerja Indonesia masih banyak ditopang sektor informal yang tidak selalu membutuhkan keahlian khusus.

Sementara itu, lulusan pendidikan tinggi juga masih menghadapi tantangan. BPS mencatat sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan D4 hingga S3 atau sekitar 14,31 persen dari total pengangguran.

Baca Juga: Pengangguran Bisa Ajukan Pinjaman KUR BRI? Begini Jawabannya

Pendidikan Tinggi Bukan Jaminan Langsung Mendapat Pekerjaan

Data Mei 2026 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang langsung terserap pasar kerja.

Sebaliknya, rendahnya TPT pada lulusan SD ke bawah juga tidak bisa langsung diartikan bahwa kelompok tersebut memiliki kondisi pekerjaan yang lebih baik. Kelompok ini justru mendominasi penduduk bekerja dengan sekitar 52,46 juta orang atau 35,40 persen dari total pekerja.

Dengan demikian, data BPS memberikan dua gambaran berbeda. Lulusan SMA merupakan kelompok dengan jumlah penganggur terbesar, sedangkan lulusan SMK memiliki TPT tertinggi.

Perbedaan ini penting dipahami agar istilah “lulusan paling banyak menganggur” tidak disamakan begitu saja dengan tingkat pengangguran.


Berita Terkait


News Update