Artinya, dari setiap 100 orang dalam angkatan kerja lulusan SMK, sekitar delapan orang masih belum bekerja.
Mengapa Pengangguran Lulusan SMK Masih Tinggi?
Tingginya TPT lulusan SMK cukup menarik karena pendidikan vokasi pada dasarnya diarahkan agar lulusannya lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai persoalannya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Ada pula persoalan kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Perubahan teknologi dan kebutuhan perusahaan yang terus berkembang membuat keterampilan lulusan juga perlu menyesuaikan. Di sisi lain, pasar kerja Indonesia masih banyak ditopang sektor informal yang tidak selalu membutuhkan keahlian khusus.
Sementara itu, lulusan pendidikan tinggi juga masih menghadapi tantangan. BPS mencatat sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan D4 hingga S3 atau sekitar 14,31 persen dari total pengangguran.
Baca Juga: Pengangguran Bisa Ajukan Pinjaman KUR BRI? Begini Jawabannya
Pendidikan Tinggi Bukan Jaminan Langsung Mendapat Pekerjaan
Data Mei 2026 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang langsung terserap pasar kerja.
Sebaliknya, rendahnya TPT pada lulusan SD ke bawah juga tidak bisa langsung diartikan bahwa kelompok tersebut memiliki kondisi pekerjaan yang lebih baik. Kelompok ini justru mendominasi penduduk bekerja dengan sekitar 52,46 juta orang atau 35,40 persen dari total pekerja.
Dengan demikian, data BPS memberikan dua gambaran berbeda. Lulusan SMA merupakan kelompok dengan jumlah penganggur terbesar, sedangkan lulusan SMK memiliki TPT tertinggi.
Perbedaan ini penting dipahami agar istilah “lulusan paling banyak menganggur” tidak disamakan begitu saja dengan tingkat pengangguran.
