POSKOTA.CO.ID - Harga tanah di kawasan Jabodetabek kembali mengalami penyesuaian sepanjang 2025. Berdasarkan laporan Market Beat Cushman & Wakefield, rata-rata harga tanah di kawasan penyangga Jakarta tersebut meningkat 1,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini membuat harga rata-rata tanah Jabodetabek pada semester II 2025 mencapai sekitar Rp12,75 juta per meter persegi. Meski kenaikannya tidak terlalu besar, pergerakan tersebut menunjukkan pasar tanah masih mengalami pertumbuhan di tengah perkembangan kawasan metropolitan.
Jakarta masih menjadi wilayah dengan harga tanah rata-rata paling tinggi. Sementara itu, Tangerang berada di posisi berikutnya dengan selisih harga yang relatif tidak terlalu jauh.
Baca Juga: Tarif Transjakarta Naik Mulai 1 Januari 2027, Masyarakat Harapkan Peningkatan Kualitas Layanan
Daftar Harga Tanah di Jabodetabek Semester II 2025
Jika dilihat per wilayah, berikut rata-rata harga tanah di Jabodetabek berdasarkan laporan Cushman & Wakefield:
- Jakarta: Rp16.224.082 per meter persegi
- Tangerang: Rp14.824.953 per meter persegi
- Bekasi: Rp10.985.202 per meter persegi
- Bogor-Depok: Rp8.950.369 per meter persegi
Angka tersebut menunjukkan bahwa Jakarta masih menjadi kawasan dengan nilai tanah tertinggi. Tingginya harga tidak terlalu mengejutkan mengingat keterbatasan lahan serta tingginya aktivitas ekonomi dan permukiman di wilayah ibu kota.
Jika dibandingkan dengan semester II 2024, harga tanah Jakarta naik dari Rp15.968.989 menjadi Rp16.224.082 per meter persegi.
Tangerang justru mencatat penurunan tipis, dari Rp14.967.943 menjadi Rp14.824.953 per meter persegi. Sementara itu, harga tanah di Bogor-Depok naik dari Rp8.798.005 menjadi Rp8.950.369 per meter persegi.
Bekasi juga mengalami kenaikan, dari Rp10.875.451 menjadi Rp10.985.202 per meter persegi.
Infrastruktur Ikut Mendorong Harga Tanah
Pergerakan harga tanah tidak berdiri sendiri. Pengembangan infrastruktur dan sarana publik di sejumlah wilayah sepanjang 2025 menjadi salah satu faktor yang ikut menopang nilai lahan di kawasan Jabodetabek.
Ketika akses transportasi, fasilitas umum, hingga kawasan komersial berkembang, lahan di sekitarnya biasanya ikut mendapat perhatian pasar. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap tanah dan hunian tetap bergerak meski kenaikannya relatif moderat.
