Beberapa penumpang wanita mengungkapkan pilihan tersebut kerap didasari pertimbangan kenyamanan dan kebutuhan praktis, seperti saat membawa anak atau keluarga.
“Mohon maaf ya bapak-bapak mas-mas semua, kalau Ig bawa anak aku duduknya di paling belakang, bukan sengaja tp krn aku bawa anak 2 jd biar duduk sendiri berjejeran trus mauny anakku jg duduk paling belakang karna tinggi katanya kalau bus gandeng. Maaf ya semua,” tulis akun @pup*****anh menjelaskan situasinya.
Selain faktor membawa anak, sebagian penumpang wanita seperti komentar dari @an**dewi** juga menjelaskan situasi di mana area khusus wanita sebenarnya sudah penuh saat mereka pertama kali naik, sehingga terpaksa duduk di area belakang.
Namun, seiring berjalannya rute bus, penumpang di area depan bertahap turun hingga terlihat lengang kembali.
Baca Juga: Perluas Integrasi Transportasi, Layanan Transjakarta Siap Hadir di Kepulauan Seribu pada 2027
Etika Penggunaan Fasilitas Transportasi Umum
Perdebatan ini menjadi pengingat pentingnya pemahaman etika serta kesadaran bersama saat menggunakan fasilitas publik, seperti armada Transjakarta.
Keberadaan area khusus wanita pada dasarnya dihadirkan pihak pengelola untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan ekstra bagi seluruh penumpang.
Berdasarkan panduan etika bertransportasi umum dari Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans) Kemenhub dan Dinas Perhubungan, kenyamanan perjalanan dimulai dari sikap dan toleransi antar penumpang.
Beberapa etika penting yang perlu diperhatikan pengguna transportasi umum meliputi:
Duduk Sesuai Peruntukan dan Maksimalkan Area Khusus
Penumpang diimbau tidak duduk sembarangan dan memanfaatkan kursi sesuai alokasinya.
Bagi penumpang wanita, sangat disarankan mengutamakan pengisian tempat duduk di area khusus terlebih dahulu sebelum memilih area umum agar kapasitas bus terbagi secara adil bagi penumpang pria.
